Rabu, 30 Desember 2015

Chap 7: My Day, Without You


Sudah lewat kurang lebih dua minggu, Jonathan tidak menghubungiku. Aku tak heran. Aku sudah berhenti menghubunginya. Aku hanya berhenti, tidak menjauh. Aku ingin melihat, apakah Jonathan akan balik menghubungiku. Tapi, melihat dia yang tanpa kabar sampai sekarang, tanpa diucapkan, aku tahu Jonathan sudah melupakanku.
 Layaknya perempuan biasa, aku menangis saat memikirkannya. Dadaku sesak saat mengucapkan namanya. Senyumku pudar tatkala mengingatnya.
 Nathan, bagaimana aku bisa melupakan Jonathan? Apakah aku harus berpaling dari Jonathan dan beralih menyukai Nathan? Adik kelasku? Ukh, itu bukan aku. Aku akan vakum lagi dari dunia menyukai laki laki. Haha, aneh memang. Tapi aku perlu waktu sekitar dua atau tiga bulan. Waktu untuk menikmati masa masa tanpa memikirkan orang yang biasa menyakitiku.
 Namun, hari demi hari berlalu. Semuanya terasa lebih aneh dari sebelumnya. Mulai dari tingkah lakuku yang semakin menjadi jadi bila melihat Nathan. Bila biasanya aku hanya memasang wajah dingin saat berpapasan dengannya, sekarang sudah jauh beda. Jatungku berdebar lebih kencang, keringat ku mengalir membasahi telapak tangan. Aku bahkan memilih jalan memutar bila berpapasan dengan Nathan.
 Lalu, soal Fillah. Saat itu guruku menugaskan kami untuk melakukan drama. Aku satu kelompok dengan Putri, Yoga, Rahma, Reyhan dan Fillah. Kelompok yang mungkin cukup baik.
  Saat kami memutuskan untuk latihan bersama di rumah Ica, Nabilah sedikit menunjukkan kode padaku.
 "Sarah, jangan pulang dulu. Nanti ayam gorengnya buat aku lho." Perkataannya itu membuatku bingung. Siapa yang membelikanku ayam goreng? Yoga? Tidak mungkin, dia adalah gebetan teman dekatku Fiyah. Reyhan? Apalagi, dia juga gebetan Nabilah. Lalu? Masa Fillah? Tidak tidak. Aku menggelengkan kepalaku. Fillah menyukai Adel. Tidak mungkin.
 Lalu, setelah menunggu sekitar satu jam. Farhan, Irfan, Fillah, Reyhan dan yang lainnya datang. Sumpah, ingin ku kutuk mereka! Datang jam segini, sudah sore juga. Arghh.
 "Kenapa lama sekali? Ini sudah sore ngerti?" Aku belum pernah memarahi anak laki laki sedekat ini.
 "Maaf, tadi gerimis." Oh ya tuhan, hanya gerimis? Baik, ku netralkan emosiku dan latihan drama seadanya.
 Jam dirumah Ica menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku segera berpamitan pada neneknya Ica dan berniat menaiki sepedaku.
 "Reyhan, hati hati ya." Kata kata itu kudengan jelas dari Nabilah. Ukh, aku ingin ke toilet.
 "Apaan sih? Kamu kan juga punya. Tuh!" Telunjuk Nabilah mengarah pada Fillah. Holly crap, apa lagi ini? Fillah? T-I-D-A-K  M-U-N-G-K-I-N. Itu mustahil. Baik, aku harus cepat cepat pergi dari tempat menyebalkan ini. Segera kupakai headphone ku dan mengayuh sepeda sekuat kuatnya.
 Semuanya lancar saja sampai terdengan bunyi klakson motor milik Fiyah. "Sarah!" Tegurnya. Karena hari sudah mendung, aku hanya tersenyum dan meneriakkan, "Hati hati, jangan ngebut!". Saat itulah aku mendengar teriakan yang sudah tak asing di telingaku. Aku menoleh pada Fillah. Tatapan kami bertemu cukup lama, bahkan saat aku sudah berbelok. Baik baik, It's just Fillah. Hanya anak laki laki dikelasku yang suka bikin baper anak orang. Aku akan terbiasa dengan ini. Dia hanya ingin menjebakku, sama seperti perempuan perempuan lainnya.
 Aku pulang, segera mengambil handuk dan mandi. Hari ini, cepatlah berakhir. Aku mohon.
 Sangking lelahnya aku, aku tertidur di ruang keluarga. Tak kudengar ocehan lucu dari adik bungsuku, teriakan aneh dari adik ku yang pertama. Atau suara iklan tv yang begitu memuakkan.
.
 Ajaib memang, semalam aku tidur di ruang tv. Dan sekarang aku bangun diatas ranjang favoritku. Mungkin semalam ibuku sempat menyeretku kedalam kamar.
 Seperti biasa, aku mandi, memakai seragam, merampas beberapa alat tulis dan buku dari lemari, dan menenteng kaus kaki. Klakson mobil yang biasa menjemputku juga sudah teriak teriak dari tadi.
 Roda mobil terus berputar mengantarku ke sekolah. Aku menaiki tangga dan dengan cepat melewati kelas Nathan.
 Aku harus cepat mengalihkan perasaanku. Kalau terus berada di dekat Nathan, aku akan semakin gila.
 Tapi, masa iya aku harus menganggap kejadian sore kemarin adalah pertanda? Arghh, jangan bodoh Sarah! Kau tidak boleh terpikat sedikitpun pada Fillah. Ya tuhannn.
.
.
 Hari hari berlalu, bersamaan dengan pementasan drama laknat yang benar benar menyebalkan itu. Kalau bukan karena Yoga adalah gebetan Fiyah, akan kubentak bentak dia karena tidak mau menghafal naskah.
 Baik, itu sudah berlalu. Aku tidak mau mengungkitnya lagi. Terlalu menyebalkan.
 Aku baru sadar, ternyata hidupku tanpa Jonathan tidak terlalu buruk. Aku memiliki teman teman disampingku yang selalu mendukungku. Walau mereka benar benar menyebalkan. Kuakui, aku akan merindukan mereka saat sudah lulus nanti.
 Besok, sekolah seperti mengadakan sebuah acara yang mengharuskan semua siswa menginap di sekolah. Kami sudah pernah melakukannya tahun lalu. Dan cukup menyenangkan.
 "Besok malam, kita jujur jujuran yuk? Udah lama banget gak main begituan." Usul Andin. Baiklah, jika aku ditanya aku menyukai siapa. Aku tidak perlu mengatakannya. Karena memang, tidak ada laki laki yang kusukai saat ini.
 "Nggak bisa, besok ada adik adik kelas. Mana mungkin, kita tidak heboh nanti malam, nggak enak kalo adik adik kelas denger." Yah, sebenarnya aku tidak masalah dengan itu. Aku hanya akan bilang, 'Aku tidak menyukai siapapun.' Hanya itu.
 "Yaudah, sekarang aja." Aku sedikit terkejut. Sekarang? Apa yang akan mereka pikirkan tentangku nanti? Baik, mereka pasti akan menganggapku bohong. Tapi tak apa, selama aku benar benar tidak menyukai siapapun, mengapa aku takut itu sebuah kebohongan?
 Semua berkumpul dan duduk melingkar dilantai. Jantungku mulai berdebar saat alat itu memutar. Mulai dari Ica, Rahma, lalu... Aku? Tak kusangka alat itu berhenti di depanku.
 "Aku tidak menyukai siapapun." Benar apa yang kupikirkan soal reaksi mereka tadi. Wajah yang menampakkan raut jengkel mengira aku telah berbohong.
 " Tidak mungkin kau tidak menyukai siapapun." Kata Ica
 "Ada beberapa orang dipikiranku, yang mungkin kau sukai." Fiyah mengarahkan matanya padaku.
 "Pertama, Dimas." Aku muak mendengar nama itu
 "Kedua, Fillah." Aku melirik Rahma. Setahuku ia termasuk korban Fillah dan kurasa Rahma masih menyimpan rasa pada Fillah.
 "Ketiga, Nathan kelas delapan." Mataku membelo saat nama itu meluncur dari mulut Fiyah. Nathan?
 "Apa yang membuat mu berfikir bahwa aku menyukai Nathan." Dengan nada sesantai mungkin. Aku tak mau terlihat gugup.
 "Gerak gerikmu." Shoot! Seperti mendapat tembakan, aku membeku. Apa benar gerak gerikku menunjukkan bahwa aku menyukai Nathan?
 "Tidak mungkin. Aku memperlakukannya sama seperti yang lain. Masa iya, seorang Sarah menyukai adik kelasnya sendiri. Ha-ha." Aku tertawa renyah.
 Mungkin teman temanku sudah muak dengan semua alasanku. Setidaknya aku tidak berbohong. Aku tidak menyukai siapapun.
 Alat itu berputar lagi dan berhenti di depan Andin. Ia seperti mati kutu. Ia menunduk, mengisyaratkan kalau dia sangat malu.
 "Ada dua orang. Pertama Hakim, kedua Nathan." Seperti ditembak dua kali. Nathan? Perasaan apa ini? Darahku seperti berhenti sejenak hingga beberapa detik oksigen tidak mengalir menuju otakku. Kusembunyikan perasaanku dengan senyum lebar seperti yang lainnya. Apa aku mulai cemburu?
.
 Ukh, aku benar benar tidak mengharapkan jujur jujuran itu. Perasaanku campur aduk mengetahui ada dua orang dikelasku yang menyukai Nathan. Fika, dan Andin. Sayangnya, mereka masih labil. Masa iya mereka menyukai laki laki lebih dari satu sekaligus. Oke, aku pernah membaca sebuah cerita. Aku mengutip kata kata dari cerita itu, "Tidak ada yang salah dari orang yang jatuh cinta."
 Tapi, jika menginginkan dua orang sekaligus? Bukankah itu egois? Apakah mereka tidak berfikir, apa yang mereka lakukan itu buruk? Oh tidak, itu hanya pemikiranku. Hanya pemikiranku saja. Selama mereka masih tahap menyukai, itu tidak terlalu buruk. Tapi akan menjadi buruk jika rasa suka itu berubah menjadi cinta.
 Aku bisa melihat Nathan disana. Sekarang tidak semenyenangkan dulu. Dulu, aku hanya senang melihat tingkahnya yang polos, sekarang tidak. Aku harus menghindarinya. Aku tidak boleh sampai suka, bahkan jatuh cinta padanya.
 Langkahku yang biasanya kuperlambat, kini tak lagi. Selalu kupercepat langkahku agar bisa menghindar dari Nathan. Beruntung, Nathan selalu dapat kuhindari.

 Mobil ini berjalan mengantarku pulang. Lesu, aku tidak ingin les hari ini. Aku tidak ingin bertemu Dimas, Kak Dio, ataupun Fillah. Ukh, aku hidup dengan segala kebosanan ini lagi, memuakkan.
 Tidak ada lagi seseorang yang bisa membuatku tersenyum malu. Tidak ada lagi seseorang yang bisa membuat saraf saraf ditubuhku kaku. Tidak ada lagi orang yang bisa membuat jiwa Fangirlku sedikit berkurang.
 Yah, semejak Move On dari Kak Ryan, aku seperti ditarik menjadi Fangirl dan aku lupa padanya. Tapi, lambat laun aku semakin tak terkendali, aku tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat Sehun melakukan sesuatu yang romantis. Atau menangis saat Chanyeol bedscane.
 Lupakan, aku harus les. Ibu dan ayahku sudah membayar mahal untuk les sialan itu. Walau aku benci, aku harus melakukannya. Aku tidak akan menyia nyiakan keringat ayah dan ibuku.
 Sekitar dua puluh menit lagi aku pergi. Aku mulai bersiap lalu berlari kecil menuju angkot.

Sabtu, 12 Desember 2015

Chap 6 : Can I Stop Loving You?


Pagi yang cerah. Aku akan mulai berlibur. Semalam aku cukup tidur. Yah, aku bahkan sempat ber sms ria dengan Jonathan. Kuakui, rasanya sudah berbeda. Tapi aku akan menjalaninya, sebisaku.
 Aku, ibu dan kedua adikku pergi menuju stasiun dan menemui Fiyah. Setelah itu, kami memasuki kereta.
Perjalanan begitu panjang. Akh, Fiyah dan adikku terus aaja mengoceh sampai ibuku marah. Wkwk, biar saja aku tidak peduli.
 Setelah hampir seharian, kami sampai. Fiyah segera dijemput orang tuanya dan aku? Masih harus menunggu tanteku menjemput.
 Mobil CRV abu abu mendekati kami. Seseorang membuka jendela mobil dan berteriak dengan suara cempreng khas anak kecil, "Kak Sarah! Kak Sarah!". Haha, itu sepupu ku, Aziz. Baru masuk sekolah, juga kakak perempuannya Ima yang sudah kelas dua sekolah dasar.
 Mobil yang kunaiki melaju menuju sebuah rumah. Aziz tak henti hentinya bercerita soal game di PSP favoritnya. Belum lagi Ima yang bertanya soal ponsel baruku.
 Aku turun dari mobil dan segera menuju rumah tanteku. Benar saja, sepupu ku yang lain sudah ada di sana. Bahkan bibi ku yang hampir selesai masa pemulihan pun ada di situ.
 Mengucap 'masa pemulihan' mengingatkan ku pada Jonathan. Tunggu, tanggal berapa ini? Empat belas? Besok Jonathan ulang tahun! Aduh, aku akan begadang hari ini dan mengucapkan "Happy Birthday" padanya tepat pukul dua belas malam.
 Aku segera mengincar kamar mandi dan membasuh tubuhku dengan air. Bukan air hangat, tapi tak masalah. Setelah selesai berurusan dengan sabun dan shampo, aku segera berganti baju dan duduk di depan tv.
 Didalam terlalu ramai. Jadi aku keluar mencari udara segar. Tampak kelap kelip dari sini. Sepupu ku bilang, itu kunang kunang. Aku juga bisa melihat jembatan yang biasa ku lalui. Ugh, dingin sekali. Udara dingin tidak bagus untukku.
 Aku masuk lagi dan melirik jam. Sudah pukul sembilan malam. Para sepupu ku juga beberapa sudah pulang. Tapi ada satu-dua yang ikut menginap bersama ku. Pukul sepuluh malam, semua sudah ada di posisi masing masing. Baiklah, aku tidak akan mengantuk. Tv terus saja memperlihatkan tontonan tak bermutu yang membuatku muak.
 Terus ku mainkan beberapa tombol remote. Benar benar menyebalkan. Berkali kali aku melirik jam dan akhirnya tibalah pukul 00.00. Kuketik pesan denga cepat lalu mengirimkannya pada Jonathan. Menfess? Mungkin besok. Aku benar benar mengantuk.
.
 Pagi yang cerah. Alarm ku berbunyi dari tadi namun tak terdengar sama sekali. Huft, aku benar benar kelelahan. Aku pun mengaktifkan paket dan membuka Blackberry Messenger ku. Kutemukan pesan dari Jonathan. Namun betapa terkejutnya aku. Bukannya berterima kasih, Jonathan malah menceramahiku.
 "Hrusnya, gak perlu begadang sampe jam buat ngucapin hal begituan."
 Aku benar benar sakit hati, mungkin aku sudah lelah berpikir positif terhadap apa yang dilakukannya padaku. Iya saja, perlakuannya padaku, kata katanya padaku, selalu membuatku sakit hati. Hanya saja aku yang selalu mengambil celah positif dari perlakuannya padaku. Selain gila, aku juga bodoh. Selama beberapa bulan terakhir. Aku bodoh.
 Satu kata, "Dari awal, dia memang tidak membutuhkan ku." Jika aku berfikir secara rasional. Jelas, dia tak pernah mau mendengar ceritaku tentang keluarga, atau teman ku. Yang dia katakan hanyalah "Sayang, masa depan dan sebangsanya." Kalau dulu aku menganggapnya romantis, sekarang aku ingin muntah saja.
 Bila kukatakan dia tidak membutuhkan ku memang benar. Dia punya pacar disana, tapi dia berhubungan denganku seolah ia tidak memiliki pacar. Sekali lagi, aku bodoh. Dia tak pernah bercerita tentang dirinya, menandakan ia tidak pernah serius denganku. Aku bodoh. Ia menyatakan perasaannya berkali kali, itu bohong. Kesekian kalinya, aku bodoh.
 Sepupu sepupuku mengajakku bermain air disebuah Water Fun. Baik, kurasa aku perlu me re-fresh otakku. Tujuanku ke luar kota adalah liburan. Melupakan hasil ujian, remedial dan segala tetek-bengeknya. Aku juga tidak perlu memikirkan Dimas yang aku bahkan tidak tau masih menyimpan rasa padaku atau tidak.
 Kutinggalkan ponselku lalu pergi menuju Water Fun. Holy crap, hari apa ini? Mengapa banyak orang pacaran disini? Yatuhann, aku ingin pulang saja.
 Baik, tidak sampai satu jam aku bermain ria dengan air. Aku berganti pakaian, dan tertidur disebuah pondok kecil yang disediakan pihak Water Fun.
 Tak perlu bantal, atau alas empuk. Kurasa meja ini sudah cukup. Aku pun terlelap.
.
 Aku terbangun dan mendapati para sepupuku tengah sibuk berganti pakaian. Aku tersenyum kecil melihat mereka. Kurasa, aku ingin kembali menjadi anak kecil lagi. Saat dimana aku masih suka tersenyum dan tertawa lepas, tanpa tau apa itu sakit hati.
 Kami pulang, dengan sepupu sepupuku yang tak henti hentinya mengeluh soal luka gores dan lebam di tubunya. Sakit yang biasa, hanya perlu diobati dan rawat dengan baik. Apakah hatiku juga akan kembali sembuh jika aku merawatnya dengan baik?
 Mobil yang kunaiki berhenti di sebuah rumah yang tak asing bagiku.
 Aku turun dan berjalan memasuki rumah tanteku. Lihat saja, aku benar benar kelelahan. Ingin aku mengecek ponselku. Tapi aku terlalu sakit hati. Terlalu sakit hati pada Jonathan. Dan aku lelah.
 Kudapati ponselku berdering dan menunjukkan sms dari ibuku. Aku akan menginap di rumah nenek malam ini. Yang benar saja, aku benar benar lelah. Tidakkah mereka mengerti? Ukh, ini membuatku ingin menangis. Tapi tak ada waktu untuk menangis. Aku ke luar kota untuk bersenang senang. Bukan untuk menangis. Baik, aku bisa kendalikan emosiku.
 Lagi, aku berjalan gontai menuju mobil silver dan melaju ke rumah nenek. Tak tau apa yang merasuki ku. Tubuh dan hatiku lelah. Tapi senyumku masih setia terukir di bibirku. Mungkin, inilah yang orang orang biasa menyebutnya fakesmile.
 Mobil berhenti, sudah ada nenek di teras rumah. Rumah tua yang kuyakin berusia puluhan tahun lebih tua dariku. Banyak sarang laba laba disetiap sudut rumah. Bahkan di lemari lemari tempat nenek meletakkan piring piring antik kesayangannya.
 Aku tersenyum dan menyalami nenek. Kedua pipiku menyentuh sepasang bibir yang sudah keriput termakan usia. Kutenteng ransel menuju kamar yang sudah disiapkan. Merebahkak tubuh diatas ranjang dan terlelap.
.
 Tv masih menyala saat aku tertidur. Ponsel ku bergetar. Ada banyak notif. Mulai dari BBM, LINE, Instagram, Lite, Webtoon, dan sejenisnya. Yah, bisa ditebak. Semuanya berisi broadcast yang tidak penting. Mungkin hanya beberapa berisi pesan dari teman temanku.
 "... Besok jalan peh."
 Aku tersenyum. Yah, mungkin jalan jalan bersama Fiyah besok bisa mengurangi rasa sakit hatiku pada Jonathan.
 "Boleh, mall di dekat rumahku oke? Tapi kau ke tempatku dulu, kita pergi bareng."
 "Oke."
 Hari sudah sore. Aku mengambil handuk, memasuki kamar mandi dan membasuh tiap jengkal bagian di tubuhku. Menggosok bagian bagian yang kotor dan membilasnya dengan air. Andai saja, semua rasa sakit itu seperti kotoran saat sebelum mandi. Mungkin rasa sakit itu akan lebih cepat menghilang.
 Sayup sayup terdengar deru motor dari luar. Aku mengenakan piyama ku dan mengintip siapa yang baru datang.
 Itu kakak sepupuku yang paling tua. Ukh, dulu kakak sepupuku itu lumayan tampan. Tapi sekarang, aku benar benar kecewa. Semenjak kurang lebih dua tahun aku tidak bertemu dengannya, perubahan besar terjadi padanya. Perutnya lebih buncit dari sebelumnya, berewokan, dan kurasa kakak sepupuku ini menderita lordosis!
 Aku tersenyum pada istri kakak sepupuku ini. Baik, baik. Aku cemburu. Tapi, melihat kakak sepupuku yang sepertinya menderita lordosis ini sudah berubah drasrtis, kusimpan rasa cemburuku dan membuangnya jauh jauh.
 Kulihat kakak sepupuku menenteng sebuah kantung plastik hitam yang tidak salah lagi itu adalah makanan. Langsung ku sambar kantung plastik itu. Istrinya tersenyum geli, masa bodo. Ku kesampingkan soal berat badanku yang sudah hampir 55kg. Bukannya sekarang aku sedang masa pertumbuhan? Jadi, aku tidak peduli.
 Malam yang begitu singkat. Seperti biasa, aku menyetel tv dan tiduran di atas ranjang. Tak kupedulikan nenek dan adikku yang terus saja berkata hal hal konyol. Kuakui, nenek ku sedikit berbeda. Logat bicaranya begitu khas sehingga terdengan lucu.
 Aku geram dengan siaran tv terus menerus tidak memperlihatkan acara bagus. Kumatikan tv dan memejamkan mata. Kuharap seorang Oh Sehun ataupun Park Chanyeol akan datang ke mimpiku. Yah, Sehun atau Chanyeol. Bukan(lagi) Jonathan.
.
 Alarm ku berbunyi, kumatikan dan terbangun. Perlahan ku cek notif di ponselku. Aku membuka Lite dan menemukan sesuatu yang hampir membuatku menangis.
Chanyeol BedScane?
 Apa yang harus kulakukan? Aku sakit hati. Aku benar benar jatuh sekarang. Terpuruk. Satu kata yang bisa mewakili kondisiku saat ini. Ukh, aku ingin menangis saja. Setelah berhenti mengejar Jonathan, aku seperti di tabrak sebuah bus besar yang membuatku hancur seketika.
 Bedscane? Terlalu buruk untukku. Chanyeol sedang mencari uang, tapi tidak dengan bedscane. Apalagi ini? Dengan artis China? Baik, aku akan berusaha menerimanya. Arghh aku tidak bisaaa.
 Aku ingat ada janji dengan Fiyah. Segera ke kesampingkan soal bedscane sialan itu, mengambil handuk dan masuk kamar mandi.
 Aku tidak bisa mengguyur satu gayung air itu sekaligus. Aduh, aku ingin menangis dulu. Perlahan, setitik demi setitik air mataku mengalir menuju dagu. Aku mulai menikmati tetesan tetesan itu.
 Chanyeol, Jonathan, dan Nathan. Tiga nama itu terus terngiang dikepalaku. Baik, aku tidak boleh seperti ini. Aku adalah perempuan yang sabar. Aku pasti bisa melewati ini.
 "Aku tahu, kelakuanku benar benar mengganggumu. Aku akan berhenti, maaf."

Chap 5 : What's Wrong With You?


 Beberapa hari setelah ujian dimulai
 Pagi yang benar benar menakjubkan. Aku bangun lebih awal dari pagi kemarin. Pukul lima pagi. Ralat, aku bukan bangun karena rajin. Hanya saja perutku bergejolak dan siap mengeluarkan sesuatu. Aku bangkit dan menuju kamar kecil.
 Maaf maaf saja, aku bangun pagi tidak akan membuatku langsung mandi seperti biasa. Aku akan menonton tv atau tidur lagi. Rutinitas yang menyenangkan.
 Pukul enam pagi aku baru bersiap. Layaknya anak anak sekolah lainnya, aku mandi dan menyiapkan segalanya. Sial, mobil jemputan sudah menunggu. Tanpa ragu, ku rampas tasku menggenggam dasi, pena dan kaus kaki, memakai sepatu lalu berlari kearah mobil. Si supir hanya geleng geleng dengan kelakuanku. Aku brutal, oke. Kuakui itu. Aku tak pernah sebrutal ini saat SMP hanya saat naik kelas tiga, kurasa aku stres memikirkan Ujian Nasional yang dimajukan lebih awal.
 Setelah semuanya sudah naik, mobil kembali melaju ke sekolah. Aku benar benar mengantuk, gara gara panggilan alam sial yang membangunkanku pukul lima pagi. Kupejamkan mataku hanya untuk mengistirahatkannya saja.
 "Kak Sarah." Itu suara adik kelasku, Ibra. Ya, aku hafal betul suaranya. Mungkin aku adalah kakak kelas yang baik. Hanya mungkin. Aku agak dekat dengan adik kelasku satu ini. Mungkin dari sekian banyak adik kelas laki laki, hanya dia yang sedikit dekat denganku. Ibra, bukan Nathan.
 "Kak, kak, bangun jam berapa sih. Pasti begadang nonton hentai." Ingin sekali kali ku tenggelamkan dia di sebuah sungai yang dalam, tubuhnya sedikit gempal. Kurasa ikan ikan di dasar sungai akan suka padanya.
 "Hooh, boku no pico eps 5." Jawabku asal. Ku naiki tangga menuju kelasku dan sedikit mengintip ke kelas Nathan. Ups, itu dia. Ku alihkan tatapan dan langkahku menuju kelas.
 Sepi, namun bisa kulihat si gempal itu disamping bangku ku. Ya tuhan, lihat cara dia menatapku. Seolah aku makhluk yang menjijikkan baginya. Ingin aku melayangkan telapak tanganku padanya. Namun aku masih sayang nyawa. Dari pada aku masuk kantor dan tidak ikut ulangan? Lebih baik kutampar dia di khayalanku.
 Dia lagi, guru olahraga yang benar benar menyebalkan. Ia berada di dalam kelas selama guru pengawas belum masuk. Memangnya dia siapa? Kepala sekolah? Dasar guru menyebalkan.
 Pengawas IPS telah memasuki ruang kelas ku. Membuka amplop yang tak salah lagi berisi kumpulan soal laknat yang akan membuatku mual sampai besok. Iya saja, soal mulai dibagikan.
 Ulangan IPS sudah selesai. Baik, aku bisa bernafas lega. Setidaknya dua hari setelah hari ini aku akan liburan keluar kota bersama Fiyah.
 Jujur, beberapa hari terakhir Jonathan sedikit aneh. Keanehan yang membuatku sakit. Ia seperti berbicara tanpa memikirkan perasaanku. Dia ketus seperti biasanya, namun kali ini benar benar membuatku ingin menangis. Dia tidak menyapaku lagi. Membalas pesanku dengan singkat. Apa yang telah kulakukan? Apa aku telah membuat kesalahan?
 Baik, aku harus fokus pada ujian tengah semester dulu baru aku akan memikirkan Jonathan.
 Besok adalah hari terakhir ujian. Lusa libur, aku juga akan pergi ke luar kota kurang lebih lima atau enam hari. Aku bebas! Huft, sudah lama aku tidak melihat Nathan. Tapi tak apa, ada Jonathan.
 Aku melihat kalender di kelasku. Sekarang tanggal dua belas Oktober. Artinya? Tiga hari lagi Jonathan ulang tahun. Ughh, aku tidak sabar lagi. Jonathan, tunggu kejutan dari ku.
 Bel berbunyi lagi dan ujian selanjutnya dimulai. Semua soal tidak terlalu sulit untukku. Yah, aku harusnya bersyukur. Ini benar benar menyenangkan. Besok ujian terakhir dan pengumuman remedial, kuharap semua nilaiku tuntas.
 Keesokan harinya.
 Ujian terakhir, akhirnyaaaa. Langsung saja, seperti biasa, guru menyebalkan itu berada di kelasku sebelum pengawas yang sebenarnya memasuki kelas. Wajahnya yang suram itu menampakkan senyum yang ugh, membuatku mual setengah mati. Ingin aku keluar dari kelas ini sekarang juga. Lagi, daripada aku buang buang waktu, lebih baik kubuka buku dan membaca apapun yang bisa kubaca. Lagi pula yang harusnya pergi itu kan dia, bukan aku.
 Malaikat sudah datang, pengawas sudah memasuki ruangan. Ahh, aku cinta pengawas itu. Lembar demi lembar dibagikan. Karena ini ujian terakhir, aku akan melakukan yang terbaik.
 Sungguh, ini benar benar jackpot. Semua yang kubaca asal masuk ke otak dan ada di dalam soal. Baik, aku optimis dengan nilai ku.
 Dua jam berlalu dan akhirnya ujian benar benar selesai. Besok aku akan berliburr. Ahh, hidupku yang menyenangkan, aku datangg.
Wali kelas ku masuk dan membawa beberapa lembar kertas. Tak salah lagi itu adalah hasil beberapa ujian. Saat hasil dibagikan, senangnya aku. Untuk tahap ini, semua nilaiku tuntas. Baik, tinggal menunggu hasil ujian selanjutnya.
 "Baik, hari Kamis lusa, kalian akan melakukan pas foto untuk data UN kalian, untuk Sarah dan Fiyah, silahkan foto sendiri di studio. Kalian pergi besok kan? Saya rasa pulang sekolah kalian bisa langsung foto dan menyerahkannya pada Kepala Sekolah. Saya rasa sudah jelas. Terima kasih perhatiannya."
 Holly crap, benar benar menyebalkan. Foto? Aku punya banyak pas foto yang cukup keren. Tapi? Aku harus berfoto lagi?
 "Fiyah, jam tiga, di studio biasa." Singkat padat dan jelas. Fiyah mengangguk., bel telah berbunyi tiga kali. Tanda kami harus segera meninggalkan tempat menyebalkan ini.
 Aku pulang, bisa kulihat Nathan dari sini. Tengah bermain dengan teman nya. Begitu ceria senyum diwajahnya. Dia tidak akan pernah tau kalau aku pun tersenyum dan menyukainya diam diam.
 Aku sudah membuat jadwal di otakku. Sepulang sekolah aku langsung prepare dan, oh! Aku harus menghubungi Jonathan dulu.
 Mobil jemputan sudah berhenti didepan rumahku. Setelah berpesan bahwa aku akan liburan beberapa hari kedepan, aku langsung membuka pagar dan melepas sepatu.
 Ponsel, satu hal yang pertama kali kucari sepulang sekolah. Bukan hanya aku, remaja atau orang lain juga melakukan hal yang sama.
 "Siang Nath, jgn lpa mkan siang ye."
 "Kau juga."
Aku lelah, nanti saja preparenya.
.
 Pukul setengah tiga siang, aku tidur cukup lama. Eh? Bukan cukup lama, tapi aku tidur benar benar lama. Ya tuhaann. Aku lupa ada janji dengan Fiyah. Segera ku cuci muka dengan air hangat dan mengganti pakaianku.
 Aku merampas tas yang bahkan aku tak tau apa isinya. Kurasa aku suka sekali merampas benda benda di depanku. Masa bodo denga semua itu, aku memakai sepatu asal, dan berlari kecil menuju jalan raya.
 Mobil kuning (re:angkot) menghampiriku. Berkali kali aku men-dial nomer Fiyah. Sialan, anak itu tidak menjawab telfonku.
 Mungkin aku benar-benar-sudah-sangat-gila. Berkali kali aku mengatakan kalau aku merindukan Jonathan. Ya tuhan, apa yang harus kulakukan? Terus ku pandangi jendela sampai mobil kuning ini berhenti di studio foto yang kutuju.
 Bisa kulihat Fiyah dari sini. Anak itu, dengan motor matic dan jaket hijau tosca (katanya) yang selalu dia banggakan/? Aku menyebrangi jalan dan tersenyum geli. Pengalaman pertamaku berfoto di studio tanpa wali.
 Ku buka pintu studio dan mendapati tante tante tengah mengutak atik komputer. Tante itu langsung menunjuk tangga menuju lantai atas mengetahui aku akan berfoto.
 Aku segera memasang semua atribut lalu duduk manis. Yatuhan, aku tak terbiasa dengan ini. Aku yang biasanya duduk seenak udelku, tertawa sampai semua gigiku terlihat. Dan sekarang? Aku harus duduk di kursi yang tak nyaman ini, dengan kaki rapat dan senyum yang ugh, menjijikkan.
 Kegiatan berfoto yang benar benar menyebalkan itu membuatku sedikit frustasi. Aku keluar bersama Fiyah, juga kalimat kalimat seperti, "Aku-tidak-akan-pergi-ketempat-ini-lagi."
 Untung aku melihat sebuah toko? Kedai? Kafe? Atau apalah orang menyebutnya. Aku membeli minuman aneh itu. Walau aku tau minuman itu aneh dan rasanya jauh dari enak kalau dibanding bubble tea favoritku.
 Aku mampir ke sebuah mall hanya untuk menunggu pas foto sialan itu. Sambil menyedot minumanku dengan rakus, aku melihat lihat. Hah, benar benar! Lihat itu, itu, juga disana. Ya ampuunn, aku sudah gilaaa.
 Satu jam telah berlalu, aku bersama Fiyah kembali ke studio foto sialan itu. Melihat hasil senyum menjijikkan ku, yah tak terlalu buruk. Seridaknya wajahku dibuat lebih 'bersinar'.
 Aku dan Fiyah segera pergi ke rumah Kepala Sekolahku. Yah, tidak buruk, Kepala sekolahku tidak cerewet karena aku tidak memakai helm, atau karena aku akan liburan sementara yang lain ikut remedial. Whatever, aku benar benar lelah dengan sikapku sendiri. Aku perlu liburan dan me-Refresh otak dan tubuhku.
 Aku pulang dan merebahkan tubuhku di ranjang. Aku mengirim pesan pada Jonathan.
"Jgn lpa mndi."

Chap 4 : Will I Can See Sunset With You?


Kurasa aku tertidur. Baik, daripada aku terus terus memikirkan Jonathan lebih baik aku les.
 Kuganti pakaianku dan memakai sepatu sneakers. Kunaiki angkot dan mengecek ponsel. Aku ingin mengirim pesan pada Jonathan. Tapi entahlah, Jonathan pasti sangat sibuk hari ini.
 Aku menyetop angkot dan langsung memasuki gedung les. Aku langsung mencari cari kakak yang mengajar fisika. Tidak ada? Mungkin lagi ada jam mengajar. Kuputuskan untuk diskusi Bahasa Indonesia bersama Kak Lia.
 "Ada pr?" Kata kata yang sering diucapkan jika aku mendatangi salah satu kakak pengajar.
 "Tidak ada, hanya ingin diskusi."
 Keluarkan buku kumpulan soal dan membahasnya bersama.
 Kurasa aku sedang diperhatikan seseorang. Oh tidak, kumohon siapa saja asal jangan Dimas. Kucari sepasang mata yang menatapku. Dan sial, mataku bertemu Dimas. Ya, dia yang sedari tadi menatapku. Ku acuhkan dia, bersikap seperti biasa seperti tidak ada yang terjadi. Kurasa Dimas belum tahu jika aku mengetahui rahasia nya.
  Sudah satu jam berlalu. Jam si kakak pengajar fisika pasti sudah selesai. Tuh kan, aku melihatnya berjalan menuruni tangga. Bukan hanya aku, Fiyah juga berperndapat bahwa si kakak fisika memang tampan. Namanya Dio. Namanya saja sudah seperti nama seorang main vocal di EXO. Aku tidak genit, menyukai kakak pengajarku sendiri. Bukankah judul Chapter ini adalah Still Love You? Jadi aku tidak akan mencintai siapapun kecuali Jonathan.
 Aku mulai menjatuhi Kak Dio dengan bertupuk soal di depanku. Dia mulai geleng geleng. Aku dan Kak Dio memulai diskusi. Fiyah yang sedari tadi bersamaku tapi kuabaikan juga ikut memulai diskusi.
 "Baik, sebelum melakukan operasi perkalian, coret dulu satuannya. Celcius dengan celsius, kilogram dengan kilogram. Dan, eh? Apa ini?" Ingin sekali aku menghamburkan tawa ku didepannya dan berkata, "Kak, itu tulisanmu sendiri." Namun itu hanya ingin. Jika kebanyakan orang terkadang tidak bisa membaca tulisan orang lain, berbeda dengan Kak Dio, dia tidak bisa membaca tulisannga sendiri.
 Satu jam berlalu dan sekarang hampir pukul enam sore. Aku mengemas buku ku dan pamit pada Kak Dio.
 Jalanan sangat ramai saat itu. Sudah sore juga. Matahari seperti sudah robek hingga terlihat semburat merah dilangit. Akan sangat damai bila melihat matahari terbenam tanpa berisik kendaraan. Aku kembali menaiki angkot dan pulang ke rumah.
 Jalan raya menuju rumahku tidak terlalu jauh. Walau sebentar, aku bisa melihat matahari terbenam sebelum benar benar menghilang. Jonathan, akankah kita bisa melihat matahari terbenam bersama suatu saat nanti?
 Kumasuki kamarku dan bersiap untuk mandi. Tanpa air hangat, kurasa akan berbeda dari hari kemarin. Sungguh, aku akan lebih lama mandi jika airnya dingin. Benar saja, saraf ku seperti dikejutkan. Akan menggigil bila tetesan air itu mengenai tubuhku. Entahlah, aku tak tau mengapa aku takut air dingin.
 Akhirnya ritual mandi ku selesai. Dengan tubuh gemetar aku memakai piyama favoritku dan makan malam.
.
 "... Sore ye."
 Tak kubalas, aku tak tahu apa yang merasukiku hingga soal soal fisika dan matematika membuatku melupakan Jonathan. Maaf Jonathan, aku benar benar tidak ingin diganggu sekarang.
 Arghh, konsentrasiku pecah. Akhirnya kubalas pesan Jonathan.
 "... Ini udh malem, jgn lpa mkan."
Lima belas menit kemudian ponselku bergetar.
 "... Iya, kau juga."
.
 Pukul delapan malam aku menikmati waktu istirahatku. Tanpa memikirkan soal ujian besok. Ku buka laptop dan mulai mencari info soal Bias.
 Sebut aku pemalas, itu memang aku. Seperti masa bodo dengan ujian besok  aku senyum senyum di depan laptop melihat foto foto biasku tertampang disana. Menjadi fangirl membuatku lupa akan semuanya.
 Fangirl adalah alasan kesekian kali ku untuk menolak cinta seseorang. Karena aku yakin, lelaki manapun tak akan betah denganku. Lagipula aku masih SMP dan cerita hidupku masih panjang (semoga). Aku mulai memikirkan Dimas. Apa yang harus kulakukan dengan anak itu? Apa aku harus berkata kalau aku lebih menyukai Jonathan daripada dia? Apa aku harus berkata bahwa sampai kapanpun aku tetap akan menyukai Jonathan?
 Aku bukan perempuan kejam. Aku akan menolak seseorang dengan halus. Aku juga akan menasihatinya bila perlu. Itu akan membuat kharismaku semakin terlihat. Tapi itu seperti menjatuhkan diriku di sebuah lubang buaya. Bukannya aku terlalu percaya diri tapi Dimas akan semakin menyukaiku. Ya tuhan, apa yang harus kulakukan?
 Hei, sadarlah Sarah! Kau memikirkan Dimas sampai kau melupakan tumpukan soal didepanmu.
 Aku benar benar kacau. Akhirnya, yang kulakukan hanyalah mengerjakan beberapa soal kecil lalu memainkan ponselku. Ralat, aku bukan memainkan ponsel. Hanya menyalakannya. Yang benar saja, ibuku tidak memperbolehkan ayahku memasang wifi. Mungkin aku akan lebih pintar karena sering mencari 'sesuatu' di internet.
 Ya, dengan internet aku juga belajar berbakti pada suami/? Mungkin, jika kau seorang fangirl kelas kakap kau akan mengerti apa maksudku. Sebut aku penghayal ulung. Aku sering berteriak bahwa aku menyukai Chanyeol dan Sehun apapun yang terjadi. Kau tahu apa yang temanku katakan saat aku mulai berkhayal?
 "Bermimpilah setinggi langit, kelak kau akan jatuh diantara bintang bintang." Lalu ia meralat ucapannya. "Tapi jika berkhayal seperti kau, kau bukan jatuh diantara bintang bintang, tapi jatuh diantara meteor meteor." aku ingin tertawa, tapi aku juga ingin menangis. Kata kata itu seperti tamparan lembut bagiku. Sampai kapan aku tersenyum melihat Sehun bernyanyi dan menangis melihat Chanyeol bersama perempuan lain?
 Oke, berfikir secara rasional. Setidaknya jika aku tidak bisa berjodoh dengan Chanyeol ataupun Sehun, aku mungkin bisa mendapat lelaki yang bisa menerimaku dengan keadaan ku seperti ini.
 Ah, bodohnya aku! Aku menghabiskan satu jam hanya untuk merutuki diriku!? Baik aku tidur dan menghentikan aktifitas memalukan ini.
 "... Night."
 Jonathan, lebih baik jika kau tidur sekarang.
 "... Night too."