Sabtu, 12 Desember 2015

Chap 2 : Come Back


 Kuperhatikan benda persegi panjang berwarna putih yang orang biasa memanggilnya papan tulis. Benar benar membosankan. Kucoret coret buku tulisku dengan coretan asal. Sesaat setelah itu, aku merasa ada sesuatu di ponselku. Ponselku berdering. Aku sudah muak dengan semua pesan yang dikirim oleh operator. Pernah sekali dua kali nomor itu ku masukkan dalam daftar hitam.
 Kualihkan perhatianku dari ponsel. Takut. Terlalu takut akan kecewa.
 Pukul enam sore, disaat matahari mulai bersembunyi berganti dengan bintang, aku kembali ke rumah ku. Bukannya aku membenci rumahku sendiri. Hanya saja aku bisa gila dengan beberapa kondisi. Disaat kau lelah dan rasanya ingin menghempaskan tubuhmu disebuah ranjang empuk. Aku malah akan melihat sebuah pertengkaran labil antar ibu dan adikku. Kalau bukan karena kelas tiga, aku ingin sekali ikut ayahku ke luar kota.
 Aku berniat menelfon ibuku untuk minta dijemput. Bukannya aku manja, hanya saja aku tidak suka dimarahi karena pulang sendiri. Aku tak menggubris notif pesan di ponselku. Aku langsung menelfon ibuku. Damn it, yang benar saja aku harus pulang sendirian? Nebeng angkot gitu? Ya ampun, ibuku ini benar benar.
 Kusebrangi jalan lalu menyetop angkot. Sudah hampir gelap, aku ingin cepat sampai rumah dan membasuh tubuhku dengan air hangat.
 Langkah ini begitu lelah. Rasanya aku ingin pingsan saja, tak sengaja aku memenyentuh notif pesan yang kuhiraukan tadi. Holy crap, itu adalah pesan dari Jonathan.
 "... Jng telat mkan."
 Sederhana, tapi berhasil membuang sedikit rasa lelahku. Setelah tiga minggu berlalu dan akhirnya dia kembali. Aku benar benar senang.
 "... Iya, kau juga."
 Send, aku tahu benar kesibukannya. Dia yang menjadi anggota MPK, dia yang memiliki banyak tugas, dan ekskul yang banyak diikutinya. Bahkan akhir pekan pun dia tidak bisa menghubungiku. Jelas, semenjak SMA, Jonathan benar benar sibuk. Aku sampai takut dibuatnya. Aku takut dia akan kelelahan lalu jatuh sakit. Dia sudah sering sakit akibat kelelahan. Bahkan tak jarang dia masuk rumah sakit. Tak heran aku benar benar khawatir padanya.
 Aku berdiri di depan pagar rumahku. Entah sudah keberapa kali aku menjuluki diriku sudah gila. Tapi memang benar, aku ragu memasuki halaman rumahku. Bahkan rumah ku sendiri. Ouch, ponselku bergetar lagi.
 "... Lgi ngapain? Udh mkan?"
Jonathan mulai lagi, ia dan semua celotehannya. Jonathan itu multifungsi buatku. Kadang kekanakan seperti adik bungsuku, kadang suka menyuruh seperti ibuku, kadang bersikap dewasa seperti ayahku, dan terkadang pula dia menganggapku 'pacar'. Mungkin apabila dia ada di depanku, aku akan mendekapnya erat sampai ia tak bisa bernafas. Aku benar benar ingin meraihnya, menyentuhnya, memeluknya atau mungkin memilikinya. Mungkin aku terlalu dangkal untuk berpikir seperti itu. Mengingat aku baru SMP dan baru akan menginjak SMA.
 "... Baru pulang, abis les tadi. Gerah wkwk."
 Aku sudah terlalu senang sampai tidak menyadari aku sudah melepas tas dan mengambil handuk. Baiknya, ibuku menyiapkan ku air hangat. Ahh, aku cinta ibuku.
 Kubasuh setiap jengkal di tubuhku. Air hangat memang yang terbaik. Mungkin cukup lama aku berada di kamar mandi. Setelah air hangat ku habis, aku mengeringkan tubuhku lalu berpakaian.
 "... Sibuk? Wkwk, ngerasain kan." Apa ini? Aku bahkan belum berkata kalau aku benar benar rindu padanya.
 "... Aku merindukanmu bodoh. Ah iya, hari ini aku ulang tahun."
 Tak lama, ponselku bergetar lagi.
 "... Udh gede nih? Selamat ulang tahun ye."
 Aku tersenyum. Namun aku tidak bisa menutupi kelelahanku. Jadilah aku tertidur dengan posisi yang lumayan tidak wajar dilakukan anak perempuan. Masa bodo dengan itu, aku tidak peduli.
 Saat itulah ponselku bergetar lagi namun aku sudah terlelap.
.
 Denting alarm ponselku benar benar mengganggu. Yasudah, kumatikan langsung alarm ku untuk kembali tidur. Samar samar aku melihat notif pesan di ponselku. Tentu saja, itu dari Jonathan.
 "... Kau kira aku tidak merindukanmu?"
 "... Night ye, nice dream."
 Aku tersenyum kecil membaca pesan itu. Tidakkah dia tahu? Aku memimpikannya akhir akhir ini. Yah, dialah mimpi indahku.
 "... Pagi, jgn lpa sarapan ye."
 Baru saja aku ingin tidur lagi. Terkadang Jonathan sangat menyebalkan.
 "... Iyee, bawel dih. Ini jga baru bangun."
 Kenyataannya? Aku tidur lagi.
.
 Baik, aku tidak berani membuka mata. Iya saja, kurasa aku sudah tidur lumayan lama. Jika aku membuka mataku, yang terlihat adalah sebuah jam yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku tetap teguh menutup mataku. Setelah cukup lama, aku tidak mendengar suara suara sibuk. Atau ibuku memanggil. Karena curiga, aku melompat dari ranjang. Tak kupedulikan kepalaku yang berat dan pusing.
 Oh ya ampun, ini adalah hari MINGGU! Bodohnya aku. Aku melirik jam. Ya tuhann, baru pukul enam? Haish, yasudahlah kurasa aku sudah lama tidak bangun pagi selama hari minggu. Kuputuskan untuk bersepeda. Setelah pamit dengan ibuku, ku bawa sepedaku.
 Ku kayuh sepeda dengan pelan. Menikmati semilir angin pagi yang aish, dingin sekali!! Ku lihat dari kejauhan, ada temanku Nabila dan Putri.
 "Ke lapangan yook?" Temanku ini sudah sakit jiwa. Suhu sedingin ini? Ke lapangan? Apa mereka mau membunuhku?
 "Sudah, ayo cepat." Tak tahu apa yang merasukiku, aku akhirnya mengikuti mereka. Tak jarang aku bergidik kedinginan. Aku melewati tempat les ku dan melihatt, eum, siapa itu? Dimas?
 Karena malu, ku kayuh sepedaku lebih cepat. Aku benar benar tak ingin bertemu siapapun teman les ku hari ini. Bahkan tak kuhiraukan hembusah angin yang menembus tulangku. Harusnya aku tidak ikut Nabila tadi.
 Lapangan begitu ramai. Ada yang bermain bola, skateboard, juga apasih namanya? Kurasa itu sejenis sepatu roda.
 Satu hal yang membuatku jengkel. Akan ada banyak orang pacaran. Ya tuhan, kukira waktu nya orang pacaran adalah sabtu malam. Kenyataanya? Aish, apakah mereka tidak bosan pacaran terus menerus? Ya, kau boleh mengatakan bahwa aku iri. Iya aku iri, jelas kan? Karena rengekanku, aku berhasil membujuk Nabila dan Putri untuk segera meninggalkan lapangan.
 "... Udh mandi?"
 Aku menghentikan laju sepedaku dan membalas pesan Jonathan.
 "... Belum, lgi Car Free day."
 Tak lama, Jonathan membalas lagi.
 "... Pasti banyak org pcran. Wkwk, jones kan? Jdi pcr ku sini?"
 Hatiku mencelos membaca pesan itu. Apa pesan itu ditujukan padaku? Yang benar saja? Oh tuhan, apa yang harus ku ketik? Baik, tenang, aku orang yang handal mengendalikan situasi ini.
 "... Nanti kalo udh pegang tangan Chanyeol."
 Ponselku bergetar lagi. Jika saja aku harus membalas semua pesan pesannya, aku tidak akan sampai dirumah dengan cepat.
 Baik, aku berhenti di lorong rumahku dan mengecek ponselku. Benar memang, ada pesan dari Jonathan.
 "... Mimpinye jgn ketinggian dih."
 Andai dia tahu aku hanya ingin menghindari obrolan itu.
 "... Biarin."
 Dan ku kayuh sepedaku lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar