Kuperhatikan
benda persegi panjang berwarna putih yang orang biasa memanggilnya papan tulis.
Benar benar membosankan. Kucoret coret buku tulisku dengan coretan asal. Sesaat
setelah itu, aku merasa ada sesuatu di ponselku. Ponselku berdering. Aku sudah
muak dengan semua pesan yang dikirim oleh operator. Pernah sekali dua kali
nomor itu ku masukkan dalam daftar hitam.
Kualihkan perhatianku dari ponsel. Takut.
Terlalu takut akan kecewa.
Pukul enam sore, disaat matahari mulai
bersembunyi berganti dengan bintang, aku kembali ke rumah ku. Bukannya aku
membenci rumahku sendiri. Hanya saja aku bisa gila dengan beberapa kondisi.
Disaat kau lelah dan rasanya ingin menghempaskan tubuhmu disebuah ranjang
empuk. Aku malah akan melihat sebuah pertengkaran labil antar ibu dan adikku.
Kalau bukan karena kelas tiga, aku ingin sekali ikut ayahku ke luar kota.
Aku berniat menelfon ibuku untuk minta
dijemput. Bukannya aku manja, hanya saja aku tidak suka dimarahi karena pulang
sendiri. Aku tak menggubris notif pesan di ponselku. Aku langsung menelfon
ibuku. Damn it, yang benar saja aku harus pulang sendirian? Nebeng angkot gitu?
Ya ampun, ibuku ini benar benar.
Kusebrangi jalan lalu menyetop angkot. Sudah
hampir gelap, aku ingin cepat sampai rumah dan membasuh tubuhku dengan air
hangat.
Langkah ini begitu lelah. Rasanya aku ingin
pingsan saja, tak sengaja aku memenyentuh notif pesan yang kuhiraukan tadi. Holy
crap, itu adalah pesan dari Jonathan.
"...
Jng telat mkan."
Sederhana, tapi berhasil membuang sedikit rasa
lelahku. Setelah tiga minggu berlalu dan akhirnya dia kembali. Aku benar benar
senang.
"...
Iya, kau juga."
Send, aku tahu benar kesibukannya. Dia yang
menjadi anggota MPK, dia yang memiliki banyak tugas, dan ekskul yang banyak
diikutinya. Bahkan akhir pekan pun dia tidak bisa menghubungiku. Jelas,
semenjak SMA, Jonathan benar benar sibuk. Aku sampai takut dibuatnya. Aku takut
dia akan kelelahan lalu jatuh sakit. Dia sudah sering sakit akibat kelelahan.
Bahkan tak jarang dia masuk rumah sakit. Tak heran aku benar benar khawatir
padanya.
Aku berdiri di depan pagar rumahku. Entah
sudah keberapa kali aku menjuluki diriku sudah gila. Tapi memang benar, aku
ragu memasuki halaman rumahku. Bahkan rumah ku sendiri. Ouch, ponselku bergetar
lagi.
"... Lgi ngapain? Udh mkan?"
Jonathan
mulai lagi, ia dan semua celotehannya. Jonathan itu multifungsi buatku. Kadang
kekanakan seperti adik bungsuku, kadang suka menyuruh seperti ibuku, kadang
bersikap dewasa seperti ayahku, dan terkadang pula dia menganggapku 'pacar'.
Mungkin apabila dia ada di depanku, aku akan mendekapnya erat sampai ia tak
bisa bernafas. Aku benar benar ingin meraihnya, menyentuhnya, memeluknya atau
mungkin memilikinya. Mungkin aku terlalu dangkal untuk berpikir seperti itu.
Mengingat aku baru SMP dan baru akan menginjak SMA.
"... Baru pulang, abis les tadi. Gerah
wkwk."
Aku sudah terlalu senang sampai tidak
menyadari aku sudah melepas tas dan mengambil handuk. Baiknya, ibuku menyiapkan
ku air hangat. Ahh, aku cinta ibuku.
Kubasuh setiap jengkal di tubuhku. Air hangat
memang yang terbaik. Mungkin cukup lama aku berada di kamar mandi. Setelah air
hangat ku habis, aku mengeringkan tubuhku lalu berpakaian.
"... Sibuk? Wkwk, ngerasain kan." Apa ini? Aku bahkan belum
berkata kalau aku benar benar rindu padanya.
"...
Aku merindukanmu bodoh. Ah iya, hari ini aku ulang tahun."
Tak lama, ponselku bergetar lagi.
"...
Udh gede nih? Selamat ulang tahun ye."
Aku tersenyum. Namun aku tidak bisa menutupi
kelelahanku. Jadilah aku tertidur dengan posisi yang lumayan tidak wajar
dilakukan anak perempuan. Masa bodo dengan itu, aku tidak peduli.
Saat itulah ponselku bergetar lagi namun aku
sudah terlelap.
.
Denting alarm ponselku benar benar mengganggu.
Yasudah, kumatikan langsung alarm ku untuk kembali tidur. Samar samar aku
melihat notif pesan di ponselku. Tentu saja, itu dari Jonathan.
"... Kau kira aku tidak
merindukanmu?"
"... Night ye, nice dream."
Aku tersenyum kecil membaca pesan itu.
Tidakkah dia tahu? Aku memimpikannya akhir akhir ini. Yah, dialah mimpi
indahku.
"...
Pagi, jgn lpa sarapan ye."
Baru saja aku ingin tidur lagi. Terkadang
Jonathan sangat menyebalkan.
"... Iyee, bawel dih. Ini jga baru
bangun."
Kenyataannya? Aku tidur lagi.
.
Baik, aku tidak berani membuka mata. Iya saja,
kurasa aku sudah tidur lumayan lama. Jika aku membuka mataku, yang terlihat
adalah sebuah jam yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku tetap teguh menutup
mataku. Setelah cukup lama, aku tidak mendengar suara suara sibuk. Atau ibuku
memanggil. Karena curiga, aku melompat dari ranjang. Tak kupedulikan kepalaku
yang berat dan pusing.
Oh ya ampun, ini adalah hari MINGGU! Bodohnya
aku. Aku melirik jam. Ya tuhann, baru pukul enam? Haish, yasudahlah kurasa aku
sudah lama tidak bangun pagi selama hari minggu. Kuputuskan untuk bersepeda.
Setelah pamit dengan ibuku, ku bawa sepedaku.
Ku kayuh sepeda dengan pelan. Menikmati
semilir angin pagi yang aish, dingin sekali!! Ku lihat dari kejauhan, ada temanku
Nabila dan Putri.
"Ke lapangan yook?" Temanku ini
sudah sakit jiwa. Suhu sedingin ini? Ke lapangan? Apa mereka mau membunuhku?
"Sudah, ayo cepat." Tak tahu apa
yang merasukiku, aku akhirnya mengikuti mereka. Tak jarang aku bergidik
kedinginan. Aku melewati tempat les ku dan melihatt, eum, siapa itu? Dimas?
Karena malu, ku kayuh sepedaku lebih cepat.
Aku benar benar tak ingin bertemu siapapun teman les ku hari ini. Bahkan tak
kuhiraukan hembusah angin yang menembus tulangku. Harusnya aku tidak ikut Nabila
tadi.
Lapangan begitu ramai. Ada yang bermain bola,
skateboard, juga apasih namanya? Kurasa itu sejenis sepatu roda.
Satu hal yang membuatku jengkel. Akan ada
banyak orang pacaran. Ya tuhan, kukira waktu nya orang pacaran adalah sabtu
malam. Kenyataanya? Aish, apakah mereka tidak bosan pacaran terus menerus? Ya,
kau boleh mengatakan bahwa aku iri. Iya aku iri, jelas kan? Karena rengekanku,
aku berhasil membujuk Nabila dan Putri untuk segera meninggalkan lapangan.
"... Udh mandi?"
Aku menghentikan laju sepedaku dan membalas
pesan Jonathan.
"... Belum, lgi Car Free day."
Tak lama, Jonathan membalas lagi.
"... Pasti banyak org pcran. Wkwk, jones
kan? Jdi pcr ku sini?"
Hatiku mencelos membaca pesan itu. Apa pesan
itu ditujukan padaku? Yang benar saja? Oh tuhan, apa yang harus ku ketik? Baik,
tenang, aku orang yang handal mengendalikan situasi ini.
"... Nanti kalo udh pegang tangan
Chanyeol."
Ponselku bergetar lagi. Jika saja aku harus
membalas semua pesan pesannya, aku tidak akan sampai dirumah dengan cepat.
Baik, aku berhenti di lorong rumahku dan
mengecek ponselku. Benar memang, ada pesan dari Jonathan.
"... Mimpinye jgn ketinggian dih."
Andai dia tahu aku hanya ingin menghindari
obrolan itu.
"... Biarin."
Dan ku kayuh sepedaku lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar