Sabtu, 12 Desember 2015

Chap 6 : Can I Stop Loving You?


Pagi yang cerah. Aku akan mulai berlibur. Semalam aku cukup tidur. Yah, aku bahkan sempat ber sms ria dengan Jonathan. Kuakui, rasanya sudah berbeda. Tapi aku akan menjalaninya, sebisaku.
 Aku, ibu dan kedua adikku pergi menuju stasiun dan menemui Fiyah. Setelah itu, kami memasuki kereta.
Perjalanan begitu panjang. Akh, Fiyah dan adikku terus aaja mengoceh sampai ibuku marah. Wkwk, biar saja aku tidak peduli.
 Setelah hampir seharian, kami sampai. Fiyah segera dijemput orang tuanya dan aku? Masih harus menunggu tanteku menjemput.
 Mobil CRV abu abu mendekati kami. Seseorang membuka jendela mobil dan berteriak dengan suara cempreng khas anak kecil, "Kak Sarah! Kak Sarah!". Haha, itu sepupu ku, Aziz. Baru masuk sekolah, juga kakak perempuannya Ima yang sudah kelas dua sekolah dasar.
 Mobil yang kunaiki melaju menuju sebuah rumah. Aziz tak henti hentinya bercerita soal game di PSP favoritnya. Belum lagi Ima yang bertanya soal ponsel baruku.
 Aku turun dari mobil dan segera menuju rumah tanteku. Benar saja, sepupu ku yang lain sudah ada di sana. Bahkan bibi ku yang hampir selesai masa pemulihan pun ada di situ.
 Mengucap 'masa pemulihan' mengingatkan ku pada Jonathan. Tunggu, tanggal berapa ini? Empat belas? Besok Jonathan ulang tahun! Aduh, aku akan begadang hari ini dan mengucapkan "Happy Birthday" padanya tepat pukul dua belas malam.
 Aku segera mengincar kamar mandi dan membasuh tubuhku dengan air. Bukan air hangat, tapi tak masalah. Setelah selesai berurusan dengan sabun dan shampo, aku segera berganti baju dan duduk di depan tv.
 Didalam terlalu ramai. Jadi aku keluar mencari udara segar. Tampak kelap kelip dari sini. Sepupu ku bilang, itu kunang kunang. Aku juga bisa melihat jembatan yang biasa ku lalui. Ugh, dingin sekali. Udara dingin tidak bagus untukku.
 Aku masuk lagi dan melirik jam. Sudah pukul sembilan malam. Para sepupu ku juga beberapa sudah pulang. Tapi ada satu-dua yang ikut menginap bersama ku. Pukul sepuluh malam, semua sudah ada di posisi masing masing. Baiklah, aku tidak akan mengantuk. Tv terus saja memperlihatkan tontonan tak bermutu yang membuatku muak.
 Terus ku mainkan beberapa tombol remote. Benar benar menyebalkan. Berkali kali aku melirik jam dan akhirnya tibalah pukul 00.00. Kuketik pesan denga cepat lalu mengirimkannya pada Jonathan. Menfess? Mungkin besok. Aku benar benar mengantuk.
.
 Pagi yang cerah. Alarm ku berbunyi dari tadi namun tak terdengar sama sekali. Huft, aku benar benar kelelahan. Aku pun mengaktifkan paket dan membuka Blackberry Messenger ku. Kutemukan pesan dari Jonathan. Namun betapa terkejutnya aku. Bukannya berterima kasih, Jonathan malah menceramahiku.
 "Hrusnya, gak perlu begadang sampe jam buat ngucapin hal begituan."
 Aku benar benar sakit hati, mungkin aku sudah lelah berpikir positif terhadap apa yang dilakukannya padaku. Iya saja, perlakuannya padaku, kata katanya padaku, selalu membuatku sakit hati. Hanya saja aku yang selalu mengambil celah positif dari perlakuannya padaku. Selain gila, aku juga bodoh. Selama beberapa bulan terakhir. Aku bodoh.
 Satu kata, "Dari awal, dia memang tidak membutuhkan ku." Jika aku berfikir secara rasional. Jelas, dia tak pernah mau mendengar ceritaku tentang keluarga, atau teman ku. Yang dia katakan hanyalah "Sayang, masa depan dan sebangsanya." Kalau dulu aku menganggapnya romantis, sekarang aku ingin muntah saja.
 Bila kukatakan dia tidak membutuhkan ku memang benar. Dia punya pacar disana, tapi dia berhubungan denganku seolah ia tidak memiliki pacar. Sekali lagi, aku bodoh. Dia tak pernah bercerita tentang dirinya, menandakan ia tidak pernah serius denganku. Aku bodoh. Ia menyatakan perasaannya berkali kali, itu bohong. Kesekian kalinya, aku bodoh.
 Sepupu sepupuku mengajakku bermain air disebuah Water Fun. Baik, kurasa aku perlu me re-fresh otakku. Tujuanku ke luar kota adalah liburan. Melupakan hasil ujian, remedial dan segala tetek-bengeknya. Aku juga tidak perlu memikirkan Dimas yang aku bahkan tidak tau masih menyimpan rasa padaku atau tidak.
 Kutinggalkan ponselku lalu pergi menuju Water Fun. Holy crap, hari apa ini? Mengapa banyak orang pacaran disini? Yatuhann, aku ingin pulang saja.
 Baik, tidak sampai satu jam aku bermain ria dengan air. Aku berganti pakaian, dan tertidur disebuah pondok kecil yang disediakan pihak Water Fun.
 Tak perlu bantal, atau alas empuk. Kurasa meja ini sudah cukup. Aku pun terlelap.
.
 Aku terbangun dan mendapati para sepupuku tengah sibuk berganti pakaian. Aku tersenyum kecil melihat mereka. Kurasa, aku ingin kembali menjadi anak kecil lagi. Saat dimana aku masih suka tersenyum dan tertawa lepas, tanpa tau apa itu sakit hati.
 Kami pulang, dengan sepupu sepupuku yang tak henti hentinya mengeluh soal luka gores dan lebam di tubunya. Sakit yang biasa, hanya perlu diobati dan rawat dengan baik. Apakah hatiku juga akan kembali sembuh jika aku merawatnya dengan baik?
 Mobil yang kunaiki berhenti di sebuah rumah yang tak asing bagiku.
 Aku turun dan berjalan memasuki rumah tanteku. Lihat saja, aku benar benar kelelahan. Ingin aku mengecek ponselku. Tapi aku terlalu sakit hati. Terlalu sakit hati pada Jonathan. Dan aku lelah.
 Kudapati ponselku berdering dan menunjukkan sms dari ibuku. Aku akan menginap di rumah nenek malam ini. Yang benar saja, aku benar benar lelah. Tidakkah mereka mengerti? Ukh, ini membuatku ingin menangis. Tapi tak ada waktu untuk menangis. Aku ke luar kota untuk bersenang senang. Bukan untuk menangis. Baik, aku bisa kendalikan emosiku.
 Lagi, aku berjalan gontai menuju mobil silver dan melaju ke rumah nenek. Tak tau apa yang merasuki ku. Tubuh dan hatiku lelah. Tapi senyumku masih setia terukir di bibirku. Mungkin, inilah yang orang orang biasa menyebutnya fakesmile.
 Mobil berhenti, sudah ada nenek di teras rumah. Rumah tua yang kuyakin berusia puluhan tahun lebih tua dariku. Banyak sarang laba laba disetiap sudut rumah. Bahkan di lemari lemari tempat nenek meletakkan piring piring antik kesayangannya.
 Aku tersenyum dan menyalami nenek. Kedua pipiku menyentuh sepasang bibir yang sudah keriput termakan usia. Kutenteng ransel menuju kamar yang sudah disiapkan. Merebahkak tubuh diatas ranjang dan terlelap.
.
 Tv masih menyala saat aku tertidur. Ponsel ku bergetar. Ada banyak notif. Mulai dari BBM, LINE, Instagram, Lite, Webtoon, dan sejenisnya. Yah, bisa ditebak. Semuanya berisi broadcast yang tidak penting. Mungkin hanya beberapa berisi pesan dari teman temanku.
 "... Besok jalan peh."
 Aku tersenyum. Yah, mungkin jalan jalan bersama Fiyah besok bisa mengurangi rasa sakit hatiku pada Jonathan.
 "Boleh, mall di dekat rumahku oke? Tapi kau ke tempatku dulu, kita pergi bareng."
 "Oke."
 Hari sudah sore. Aku mengambil handuk, memasuki kamar mandi dan membasuh tiap jengkal bagian di tubuhku. Menggosok bagian bagian yang kotor dan membilasnya dengan air. Andai saja, semua rasa sakit itu seperti kotoran saat sebelum mandi. Mungkin rasa sakit itu akan lebih cepat menghilang.
 Sayup sayup terdengar deru motor dari luar. Aku mengenakan piyama ku dan mengintip siapa yang baru datang.
 Itu kakak sepupuku yang paling tua. Ukh, dulu kakak sepupuku itu lumayan tampan. Tapi sekarang, aku benar benar kecewa. Semenjak kurang lebih dua tahun aku tidak bertemu dengannya, perubahan besar terjadi padanya. Perutnya lebih buncit dari sebelumnya, berewokan, dan kurasa kakak sepupuku ini menderita lordosis!
 Aku tersenyum pada istri kakak sepupuku ini. Baik, baik. Aku cemburu. Tapi, melihat kakak sepupuku yang sepertinya menderita lordosis ini sudah berubah drasrtis, kusimpan rasa cemburuku dan membuangnya jauh jauh.
 Kulihat kakak sepupuku menenteng sebuah kantung plastik hitam yang tidak salah lagi itu adalah makanan. Langsung ku sambar kantung plastik itu. Istrinya tersenyum geli, masa bodo. Ku kesampingkan soal berat badanku yang sudah hampir 55kg. Bukannya sekarang aku sedang masa pertumbuhan? Jadi, aku tidak peduli.
 Malam yang begitu singkat. Seperti biasa, aku menyetel tv dan tiduran di atas ranjang. Tak kupedulikan nenek dan adikku yang terus saja berkata hal hal konyol. Kuakui, nenek ku sedikit berbeda. Logat bicaranya begitu khas sehingga terdengan lucu.
 Aku geram dengan siaran tv terus menerus tidak memperlihatkan acara bagus. Kumatikan tv dan memejamkan mata. Kuharap seorang Oh Sehun ataupun Park Chanyeol akan datang ke mimpiku. Yah, Sehun atau Chanyeol. Bukan(lagi) Jonathan.
.
 Alarm ku berbunyi, kumatikan dan terbangun. Perlahan ku cek notif di ponselku. Aku membuka Lite dan menemukan sesuatu yang hampir membuatku menangis.
Chanyeol BedScane?
 Apa yang harus kulakukan? Aku sakit hati. Aku benar benar jatuh sekarang. Terpuruk. Satu kata yang bisa mewakili kondisiku saat ini. Ukh, aku ingin menangis saja. Setelah berhenti mengejar Jonathan, aku seperti di tabrak sebuah bus besar yang membuatku hancur seketika.
 Bedscane? Terlalu buruk untukku. Chanyeol sedang mencari uang, tapi tidak dengan bedscane. Apalagi ini? Dengan artis China? Baik, aku akan berusaha menerimanya. Arghh aku tidak bisaaa.
 Aku ingat ada janji dengan Fiyah. Segera ke kesampingkan soal bedscane sialan itu, mengambil handuk dan masuk kamar mandi.
 Aku tidak bisa mengguyur satu gayung air itu sekaligus. Aduh, aku ingin menangis dulu. Perlahan, setitik demi setitik air mataku mengalir menuju dagu. Aku mulai menikmati tetesan tetesan itu.
 Chanyeol, Jonathan, dan Nathan. Tiga nama itu terus terngiang dikepalaku. Baik, aku tidak boleh seperti ini. Aku adalah perempuan yang sabar. Aku pasti bisa melewati ini.
 "Aku tahu, kelakuanku benar benar mengganggumu. Aku akan berhenti, maaf."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar