Pagi
yang cerah. Aku akan mulai berlibur. Semalam aku cukup tidur. Yah, aku bahkan
sempat ber sms ria dengan Jonathan. Kuakui, rasanya sudah berbeda. Tapi aku
akan menjalaninya, sebisaku.
Aku, ibu dan kedua adikku pergi menuju stasiun
dan menemui Fiyah. Setelah itu, kami memasuki kereta.
Perjalanan
begitu panjang. Akh, Fiyah dan adikku terus aaja mengoceh sampai ibuku marah.
Wkwk, biar saja aku tidak peduli.
Setelah hampir seharian, kami sampai. Fiyah
segera dijemput orang tuanya dan aku? Masih harus menunggu tanteku menjemput.
Mobil CRV abu abu mendekati kami. Seseorang membuka
jendela mobil dan berteriak dengan suara cempreng khas anak kecil, "Kak Sarah!
Kak Sarah!". Haha, itu sepupu ku, Aziz. Baru masuk sekolah, juga kakak perempuannya
Ima yang sudah kelas dua sekolah dasar.
Mobil yang kunaiki melaju menuju sebuah rumah.
Aziz tak henti hentinya bercerita soal game di PSP favoritnya. Belum lagi Ima yang
bertanya soal ponsel baruku.
Aku turun dari mobil dan segera menuju rumah
tanteku. Benar saja, sepupu ku yang lain sudah ada di sana. Bahkan bibi ku yang
hampir selesai masa pemulihan pun ada di situ.
Mengucap 'masa pemulihan' mengingatkan ku pada
Jonathan. Tunggu, tanggal berapa ini? Empat belas? Besok Jonathan ulang tahun!
Aduh, aku akan begadang hari ini dan mengucapkan "Happy Birthday"
padanya tepat pukul dua belas malam.
Aku segera mengincar kamar mandi dan membasuh
tubuhku dengan air. Bukan air hangat, tapi tak masalah. Setelah selesai berurusan
dengan sabun dan shampo, aku segera berganti baju dan duduk di depan tv.
Didalam terlalu ramai. Jadi aku keluar mencari
udara segar. Tampak kelap kelip dari sini. Sepupu ku bilang, itu kunang kunang.
Aku juga bisa melihat jembatan yang biasa ku lalui. Ugh, dingin sekali. Udara
dingin tidak bagus untukku.
Aku masuk lagi dan melirik jam. Sudah pukul
sembilan malam. Para sepupu ku juga beberapa sudah pulang. Tapi ada satu-dua
yang ikut menginap bersama ku. Pukul sepuluh malam, semua sudah ada di posisi
masing masing. Baiklah, aku tidak akan mengantuk. Tv terus saja memperlihatkan
tontonan tak bermutu yang membuatku muak.
Terus ku mainkan beberapa tombol remote. Benar
benar menyebalkan. Berkali kali aku melirik jam dan akhirnya tibalah pukul
00.00. Kuketik pesan denga cepat lalu mengirimkannya pada Jonathan. Menfess?
Mungkin besok. Aku benar benar mengantuk.
.
Pagi yang cerah. Alarm ku berbunyi dari tadi
namun tak terdengar sama sekali. Huft, aku benar benar kelelahan. Aku pun
mengaktifkan paket dan membuka Blackberry Messenger ku. Kutemukan pesan dari
Jonathan. Namun betapa terkejutnya aku. Bukannya berterima kasih, Jonathan malah
menceramahiku.
"Hrusnya, gak perlu begadang sampe jam
buat ngucapin hal begituan."
Aku benar benar sakit hati, mungkin aku sudah
lelah berpikir positif terhadap apa yang dilakukannya padaku. Iya saja,
perlakuannya padaku, kata katanya padaku, selalu membuatku sakit hati. Hanya
saja aku yang selalu mengambil celah positif dari perlakuannya padaku. Selain gila,
aku juga bodoh. Selama beberapa bulan terakhir. Aku bodoh.
Satu kata, "Dari awal, dia memang
tidak membutuhkan ku." Jika aku berfikir secara rasional. Jelas, dia
tak pernah mau mendengar ceritaku tentang keluarga, atau teman ku. Yang dia katakan
hanyalah "Sayang, masa depan dan sebangsanya." Kalau dulu aku
menganggapnya romantis, sekarang aku ingin muntah saja.
Bila kukatakan dia tidak membutuhkan ku memang
benar. Dia punya pacar disana, tapi dia berhubungan denganku seolah ia tidak
memiliki pacar. Sekali lagi, aku bodoh. Dia tak pernah bercerita tentang
dirinya, menandakan ia tidak pernah serius denganku. Aku bodoh. Ia menyatakan
perasaannya berkali kali, itu bohong. Kesekian kalinya, aku bodoh.
Sepupu sepupuku mengajakku bermain air disebuah
Water Fun. Baik, kurasa aku perlu me re-fresh otakku. Tujuanku ke luar kota adalah
liburan. Melupakan hasil ujian, remedial dan segala tetek-bengeknya. Aku juga
tidak perlu memikirkan Dimas yang aku bahkan tidak tau masih menyimpan rasa
padaku atau tidak.
Kutinggalkan ponselku lalu pergi menuju Water
Fun. Holy crap, hari apa ini? Mengapa banyak orang pacaran disini?
Yatuhann, aku ingin pulang saja.
Baik, tidak sampai satu jam aku bermain ria
dengan air. Aku berganti pakaian, dan tertidur disebuah pondok kecil yang
disediakan pihak Water Fun.
Tak perlu bantal, atau alas empuk. Kurasa meja
ini sudah cukup. Aku pun terlelap.
.
Aku terbangun dan mendapati para sepupuku
tengah sibuk berganti pakaian. Aku tersenyum kecil melihat mereka. Kurasa, aku
ingin kembali menjadi anak kecil lagi. Saat dimana aku masih suka tersenyum dan
tertawa lepas, tanpa tau apa itu sakit hati.
Kami pulang, dengan sepupu sepupuku yang tak
henti hentinya mengeluh soal luka gores dan lebam di tubunya. Sakit yang biasa,
hanya perlu diobati dan rawat dengan baik. Apakah hatiku juga akan kembali
sembuh jika aku merawatnya dengan baik?
Mobil yang kunaiki berhenti di sebuah rumah yang
tak asing bagiku.
Aku turun dan berjalan memasuki rumah tanteku.
Lihat saja, aku benar benar kelelahan. Ingin aku mengecek ponselku. Tapi aku
terlalu sakit hati. Terlalu sakit hati pada Jonathan. Dan aku lelah.
Kudapati ponselku berdering dan menunjukkan
sms dari ibuku. Aku akan menginap di rumah nenek malam ini. Yang benar saja, aku
benar benar lelah. Tidakkah mereka mengerti? Ukh, ini membuatku ingin menangis.
Tapi tak ada waktu untuk menangis. Aku ke luar kota untuk bersenang senang.
Bukan untuk menangis. Baik, aku bisa kendalikan emosiku.
Lagi, aku berjalan gontai menuju mobil silver
dan melaju ke rumah nenek. Tak tau apa yang merasuki ku. Tubuh dan hatiku
lelah. Tapi senyumku masih setia terukir di bibirku. Mungkin, inilah yang orang
orang biasa menyebutnya fakesmile.
Mobil berhenti, sudah ada nenek di teras
rumah. Rumah tua yang kuyakin berusia puluhan tahun lebih tua dariku. Banyak sarang
laba laba disetiap sudut rumah. Bahkan di lemari lemari tempat nenek meletakkan
piring piring antik kesayangannya.
Aku tersenyum dan menyalami nenek. Kedua
pipiku menyentuh sepasang bibir yang sudah keriput termakan usia. Kutenteng ransel
menuju kamar yang sudah disiapkan. Merebahkak tubuh diatas ranjang dan
terlelap.
.
Tv masih menyala saat aku tertidur. Ponsel ku
bergetar. Ada banyak notif. Mulai dari BBM, LINE, Instagram, Lite, Webtoon, dan
sejenisnya. Yah, bisa ditebak. Semuanya berisi broadcast yang tidak penting.
Mungkin hanya beberapa berisi pesan dari teman temanku.
"... Besok jalan peh."
Aku tersenyum. Yah, mungkin jalan jalan bersama
Fiyah besok bisa mengurangi rasa sakit hatiku pada Jonathan.
"Boleh, mall di dekat rumahku oke?
Tapi kau ke tempatku dulu, kita pergi bareng."
"Oke."
Hari sudah sore. Aku mengambil handuk,
memasuki kamar mandi dan membasuh tiap jengkal bagian di tubuhku. Menggosok
bagian bagian yang kotor dan membilasnya dengan air. Andai saja, semua rasa
sakit itu seperti kotoran saat sebelum mandi. Mungkin rasa sakit itu akan lebih
cepat menghilang.
Sayup sayup terdengar deru motor dari luar. Aku
mengenakan piyama ku dan mengintip siapa yang baru datang.
Itu kakak sepupuku yang paling tua. Ukh, dulu
kakak sepupuku itu lumayan tampan. Tapi sekarang, aku benar benar kecewa. Semenjak
kurang lebih dua tahun aku tidak bertemu dengannya, perubahan besar terjadi padanya.
Perutnya lebih buncit dari sebelumnya, berewokan, dan kurasa kakak sepupuku ini
menderita lordosis!
Aku tersenyum pada istri kakak sepupuku ini.
Baik, baik. Aku cemburu. Tapi, melihat kakak sepupuku yang sepertinya menderita
lordosis ini sudah berubah drasrtis, kusimpan rasa cemburuku dan membuangnya jauh
jauh.
Kulihat kakak sepupuku menenteng sebuah
kantung plastik hitam yang tidak salah lagi itu adalah makanan. Langsung ku
sambar kantung plastik itu. Istrinya tersenyum geli, masa bodo. Ku kesampingkan
soal berat badanku yang sudah hampir 55kg. Bukannya sekarang aku sedang masa
pertumbuhan? Jadi, aku tidak peduli.
Malam yang begitu singkat. Seperti biasa, aku
menyetel tv dan tiduran di atas ranjang. Tak kupedulikan nenek dan adikku yang terus
saja berkata hal hal konyol. Kuakui, nenek ku sedikit berbeda. Logat bicaranya
begitu khas sehingga terdengan lucu.
Aku geram dengan siaran tv terus menerus tidak
memperlihatkan acara bagus. Kumatikan tv dan memejamkan mata. Kuharap seorang
Oh Sehun ataupun Park Chanyeol akan datang ke mimpiku. Yah, Sehun atau
Chanyeol. Bukan(lagi) Jonathan.
.
Alarm ku berbunyi, kumatikan dan terbangun. Perlahan
ku cek notif di ponselku. Aku membuka Lite dan menemukan sesuatu yang hampir
membuatku menangis.
Chanyeol
BedScane?
Apa yang harus kulakukan? Aku sakit hati. Aku benar benar
jatuh sekarang. Terpuruk. Satu kata yang bisa mewakili kondisiku saat ini. Ukh,
aku ingin menangis saja. Setelah berhenti mengejar Jonathan, aku seperti di tabrak
sebuah bus besar yang membuatku hancur seketika.
Bedscane? Terlalu buruk untukku. Chanyeol
sedang mencari uang, tapi tidak dengan bedscane. Apalagi ini? Dengan artis China?
Baik, aku akan berusaha menerimanya. Arghh aku tidak bisaaa.
Aku ingat ada janji dengan Fiyah. Segera ke
kesampingkan soal bedscane sialan itu, mengambil handuk dan masuk kamar mandi.
Aku tidak bisa mengguyur satu gayung air itu
sekaligus. Aduh, aku ingin menangis dulu. Perlahan, setitik demi setitik air
mataku mengalir menuju dagu. Aku mulai menikmati tetesan tetesan itu.
Chanyeol, Jonathan, dan Nathan. Tiga nama itu
terus terngiang dikepalaku. Baik, aku tidak boleh seperti ini. Aku adalah
perempuan yang sabar. Aku pasti bisa melewati ini.
"Aku tahu, kelakuanku benar benar mengganggumu.
Aku akan berhenti, maaf."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar