Aku
tak pernah menyangka kalau akan jadi seperti ini. Iya saja, mengingat aku
sangat benci olahraga apalagi senam. Aku lebih suka menari dengan bebas tanpa
diiringi hitungan satu, dua, tiga, empat atau apapun itu. Tapi hari ini, pagi
ini tepatnya, aku benar benar menunggu saat itu. Saat dimana aku bisa melihat
kakinya melangkah dengan semangat, tangannya bergerak sesuai irama, dan
keringat yang mengalir dari pelipis menuju wajahnya. Mungkin apabila dia berada
dekat dengan ku saat itu aku akan memberinya sehelai tisu atau bahkan menyeka
keringat nya itu.
Hanya satu masalahnya, dia adalah adik
kelasku. Entahlah, sudah sekitar dua tahun aku mengenalnya. Aku dan dia pun
lumayan sering ikut lomba bersama. Anehnya aku baru merasakan debaran itu sekarang.
Mungkin bisa kuceritakan sedikit tentang dia.
Jika kau membandingkannya dengan aktris korea
seperti Lee Jong Suk, Ahn Jae Hyun atau Kim Soo Hyun. Kau salah besar. Dia
tidak tinggi, tidak mancung ataupun putih. Kau bisa menyebutnya, kesederhanaan.
Aku mulai tertarik memperhatikannya saat menyadari dia sangat sopan padaku.
Tidak hanya aku, teman teman ku yang lain juga. Dia juga eumm.. manis kurasa.
Aku tidak terlalu berlebihan kan? Kurasa seleraku tidak setinggi yang biasa ku
katakan. Hahah, tapi whatever lah.
Alunan musik yang biasanya akan menggangguku
kini terdengar seperti melodi yang biasa mengalun dari handphone ku. Aku mulai
menyukai nya. Namun mataku tak bisa melihatnya terus terusan. Aku tak tahu
mengapa aku tidak bisa menatap orang kusukai lebih dari lima detik. Senam yang
biasanya ku lalui dengan kerutan tak jelas diwajah, kini berganti dengan ukiran
senyum dan bahagia. Benar benar pagi yang menyenangkan.
Musik pun berhenti diiringi langkah kakinya
menuju barisan. Aku bisa melihat tetesan tetesan itu, aih aku ingin sekali
menyeka nya. Namun aku hanya bisa tersenyum dan berkhayal aku bisa menyentuh
wajahnya suatu saat nanti.
Aku kembali ke kelas. Aku sangat senang
sekarang sampai sampai aku ingin dunia mengetahuinya. Aku tahu betul kalau aku
sangat berlebihan sekarang. Tapi setelah dua tahun aku vakum dari dunia
menyukai, aku kembali lagi. Kembali menyukai laki laki yang benar benar laki
laki. Bukan Park Chanyeol, Oh Sehun, Xi Luhan, Lee Sungyeol atau dia. Laki laki
yang bisa ku lihat setiap hari, laki laki yang bisa kutemui setiap saat. Itu
menyenangkan.
Well, aku sangat malu mengakuinya. Termasuk
pada temanku. Kau tahu apa yang menyakitkan buat ku? Mungkin aku akan meniru
kata kata Tak Ye Jin (The Producer) "Aku sangat menyukainya namun aku tak
bisa cerita pada siapa pun dan itu menyakitkan" benar menyakitkan. Aku
tidak suka bercerita tentang orang yang kusukai. Aku tidak suka saat dimana aku
dan dia menjadi canggung karena orang orang membicarakan kami. Itu hanya akan
membuatku jauh darinya.
Mungkin dari tadi aku belum memberi tahu
namanya. Kau bisa panggil dia Nathan, Adelio Nathan.
.
Langkah ku begitu berat meninggalkan lapangan.
Rasanya ingin berlama lama disitu untuk memperhatikanya. Namun aku tak bisa,
guru olahraga ku yang satu ini benar benar menyebalkan. Disaat aku mulai
menyukai pelajaran laknatnya itu. Dia malah membuatku menjadi membencinya lagi.
Sedikit kuperhatikan lagi dia. Namun kaki ini
terus melangkah mengikuti perintah. Yasudah, aku akan kembali ke kelasku lagi.
Sebuah berita yang cukup manis ditelingaku.
Sebuah bimbingan belajar tengah mengadakan seminar di ruang kelas ku. Itu
berarti, satu sampai dua jam kedepan aku bisa melihatnya. Melihat Nathan di
kelasku, sedikit lebih dekat.
Namun itu hanyalah angan belaka. Aku tidak
duduk di dekat barisan laki laki. Aku berada di ujung bersama temanku Fiyah.
Melihat Nathan dari dekat hanya mencapai khayalan. Aku masih menatapnya dari
jarak jauh dalam diam. Seminar telah dimulai, namun aku tidak memperhatikan
tentor sama sekali. Mataku sedikit mencuri pandang ke arahnya. Setelah kurasa
cukup, aku kembali menunduk menyembunyikan senyum.
Dari sepersekian menit aku terus menatap
Nathan, kakak tentor mulai mengadakan soal berhadiah. Sungguh aku tidak
menginginkan hadiah dalam box itu. Aku hanya ingin Nathan melihatku. Setidaknya
untuk yang pertama kalinya sejak aku menyukainya. Namun, lagi, itu hanya angan
belaka. Ya ampun, apakan harapanku tentang Nathan hanya akan jadi angan biasa?
Tanpa aku bisa mewujudkannya?
Pukul sepuluh lewat sepuluh. Seminar selesai,
doorprize juga sudah dibagikan. Aku hanya menghela nafas kecil menatapi
punggung Nathan yang telah menjauh lalu menghilang. Aku segera bersiap berganti
baju untuk latihan pramuka, setidaknya aku bisa melihat Nathan mendirikan tandu
atau berjalan tegap di depanku.
Takdir berkata lain. Sebagai wakil ketua OSIS,
Nathan bertugas sebagai petugas upacara untuk Senin. Aku hanya tersenyum kecil
menahan perih. Kurasa aku dan Nathan tidak bisa dekat dalam waktu dekat.
Kurapikan baju lalu menuruni tangga. Mataku
sedikit berkeliling mencari sosok Nathan. Nah, itu dia. Tengah mengikat tali
sepatunya. Kurasa aku sudah mulai gila. Bahkan saat mengikat tali sepatu, aku
berpikir ia tampak keren.
Aku berjalan perlahan mengikuti barisan. Sengaja,
agar aku bisa melihat Nathan sedikit lebih lama. Aku ingin mempercepat waktu
agar bisa melihat Nathan lagi.
Akan kulewati bagian yang menurutku tak
penting. Ayolah, bukan berarti aku tak suka pramuka. Aku hanya malas
menceritakan hal yang tidak ada Nathan didalamnya.
Langkahku menuntunku kembali ke sekolah. Bisa
kuintip sedikit kearah kelas Nathan. Lalu cepat cepat ambil langkah menuju
kelasku. Semuanya begitu cepat. Setelah makan siang dan beberapa kegiatan lain,
sekolah akan dibubarkan. Aku bahkan hanya melihat Nathan tidak lebih dari satu
jam hari ini. Kebodohanku: Disaat orang yang kusukai berada di dekatku, aku
bahkan tidak bisa melihatnya dengan baik. Bukan berarti mataku rabun atau
sebagainya.
Aku benar benar sudah gila. Aku akan mencuri pandang
ke arah Nathan, tersenyum, lalu mengutuk diriku karena telah melakukannya. Aku
tak tahu, bahkan sebagian dari diriku tidak rela aku bisa menyukai makhluk
seperti Nathan. Bukannya Nathan aneh, autis atau idiot. Hanya saja sebagian
dari diriku masih menyukai seseorang nun jauh disana. Jonathan.
Baik, aku belum cerita apapun soal Jonathan.
Karena namanya terlalu panjang, aku lebih suka memanggilnya Nathan. Aku
mengenalnya lewat BlackBerry Messenger. Itu kali pertama ada seorang lelaki
yang sependapat denganku. Disaat teman temanku lebih suka reggae, western,
india atau semacamnya. Sedangkan dia? Entah apa yang merasuki ku sampai sampai
aku bisa akrab denganya dalam waktu yang singkat.
Lucu, tapi dia suka apa yang aku sukai. Dan
dia tidak suka apa yang tidak aku sukai. Dan selang beberapa bulan aku
menyukainya. Perasaanku bertambah saat Jonathan mulai menampakkan rasa sukanya
padaku. Dia sudah menyatakan perasaannya padaku berkali kali. Namun selalu
kutolak dengan halus. Aku dan dia sudah sering bercanda, kurasa itupun tidak
akan menyakitinya kecuali aku menolaknya mentah mentah.
Seperti yang kuduga, pukul satu siang kami
pulang. Bisa kulihat Nathan dari sini. Tengah menggendong tas dengan arah mata
yang berkeliaran mencari sesuatu. Andai sesuatu yang dicarinya itu aku. Aduh,
aku benar benar gila. Segera ku ambil langkah mengabaikan Nathan yang masih
sibuk mencari sesuatu.
Aku pulang dengan langkah gontai seperti
biasa. Segera ku lepas kaus kaki dan berjalan ke kamar.
Ku hempaskan tubuhku dengan gusar. Satu
setengah jam lagi aku ada les. Jadilah aku tidak bisa tidur setelah sekolah. Ku
nyalakan ponselku dan mengecek dengan lesu. Sudah hampir tiga minggu Jonathan
tidak menghubungiku. Itu yang membuatku khawatir. Biasanya Jonathan paling lama
tidak menghubungiku dua minggu, selanjutnya? Dia akan terus menghubungiku
seolah dia benar benar kehilangan aku. Ini sudah tiga minggu, aku benar benar
ingin tau apa yang terjadi padanya.
Jam terus saja berjalan sampai pukul dua
siang. Aku segera bersiap dan pergi ke tempat les ku.
Menjadi anak kelas tiga bukanlah suatu hal
yang mudah. Kau akan banyak kegiatan. Banyak belajar, banyak tugas belum lagi
mengurusi adik kecilku. Rasanya tidak lagi memiliki waktu untuk diriku sendiri.
Tapi aku menyukainya.
Kusempatkan membeli sebuah bubble tea. Minuman
favorit ku. Lalu, kunaiki angkot yang mulai melaju lagi. Kurasa dari tadi aku
hanya melamun. Sampai tak mengira salah satu teman les ku juga berada di angkot
yang sama.
Lagi, ku cek ponsel ku diiringi helaan nafas.
Aku benar benar rindu Jonathan. Aku tak ingin berpaling dari Jonathan. Hanya
karena adik kelasku yg tidak ada apa apanya dibanding Jonathan. Lihat? Mungkin
beberapa jam yang lalu aku memuji muji Nathan dan memperhatikannya. Aku memang
labil saat ini. Yang jelas, perasaan suka ku tidak lebih. Hanya karena dia
sopan padaku, cukup.
Aku menaiki tangga memasuki ruanganku. Sudah
hampir penuh, aku berjalan menuju salah satu kursi di ujung didekat Fiyah dan
Ica.
Kakak pengajar sudah memasuki kelas. Bukannya
aku tidak menyukai kakak pengajar, hanya saja hari ini begitu melelahkan hingga
aku menenggelamkan wajah diatas bangku. Sama sekali tidak nyaman. Aku mengutuk
siapapun yang membuat kursi ini. Bukannya aku bisa istirahat, tubuhku malah
sakit semua.
Ditengah pelajaran, aku merasakan satu mata
kearahku. Mungkinkah aku terlalu mencolok dengan pakaian ini? Atau salah satu
dari mereka menginginkan bubble tea ku? Masa bodoh dengan semua itu, aku
kembali menyedot bubble tea ku lalu mengalihkan fokus ke papan tulis lagi.
"Dimas, perhatikan ke depan!" Aku
sedikit melirik kearah yang ditegur. Oh, itu yang namanya Dimas. Batinku.
Sudah satu setengah jam aku duduk di kursi
sialan ini. Akhirnya, bel istirahat berbunyi. Tak lama, mungkin hanya sepuluh
atau lima belas menit. Aku segera mengambil nafas segar di bawah, membeli minum
(lagi) mengetahui bubble tea ku sudah habis.
Lagi, aku merasakan satu mata kearahku.
Tuhann, apa ini? Sungguh aku benar benar tidak nyaman dengan ini. Atau ini
hanya perasaan ku saja? Ah sudahlah, aku harus cepat cepat ke kelas lagi.
"Woi Dimas, meleng aje!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar