Sabtu, 12 Desember 2015

Chap 1 : Prolog


 Aku tak pernah menyangka kalau akan jadi seperti ini. Iya saja, mengingat aku sangat benci olahraga apalagi senam. Aku lebih suka menari dengan bebas tanpa diiringi hitungan satu, dua, tiga, empat atau apapun itu. Tapi hari ini, pagi ini tepatnya, aku benar benar menunggu saat itu. Saat dimana aku bisa melihat kakinya melangkah dengan semangat, tangannya bergerak sesuai irama, dan keringat yang mengalir dari pelipis menuju wajahnya. Mungkin apabila dia berada dekat dengan ku saat itu aku akan memberinya sehelai tisu atau bahkan menyeka keringat nya itu.
 Hanya satu masalahnya, dia adalah adik kelasku. Entahlah, sudah sekitar dua tahun aku mengenalnya. Aku dan dia pun lumayan sering ikut lomba bersama. Anehnya aku baru merasakan debaran itu sekarang. Mungkin bisa kuceritakan sedikit tentang dia.
 Jika kau membandingkannya dengan aktris korea seperti Lee Jong Suk, Ahn Jae Hyun atau Kim Soo Hyun. Kau salah besar. Dia tidak tinggi, tidak mancung ataupun putih. Kau bisa menyebutnya, kesederhanaan. Aku mulai tertarik memperhatikannya saat menyadari dia sangat sopan padaku. Tidak hanya aku, teman teman ku yang lain juga. Dia juga eumm.. manis kurasa. Aku tidak terlalu berlebihan kan? Kurasa seleraku tidak setinggi yang biasa ku katakan. Hahah, tapi whatever lah.
 Alunan musik yang biasanya akan menggangguku kini terdengar seperti melodi yang biasa mengalun dari handphone ku. Aku mulai menyukai nya. Namun mataku tak bisa melihatnya terus terusan. Aku tak tahu mengapa aku tidak bisa menatap orang kusukai lebih dari lima detik. Senam yang biasanya ku lalui dengan kerutan tak jelas diwajah, kini berganti dengan ukiran senyum dan bahagia. Benar benar pagi yang menyenangkan.
 Musik pun berhenti diiringi langkah kakinya menuju barisan. Aku bisa melihat tetesan tetesan itu, aih aku ingin sekali menyeka nya. Namun aku hanya bisa tersenyum dan berkhayal aku bisa menyentuh wajahnya suatu saat nanti.
 Aku kembali ke kelas. Aku sangat senang sekarang sampai sampai aku ingin dunia mengetahuinya. Aku tahu betul kalau aku sangat berlebihan sekarang. Tapi setelah dua tahun aku vakum dari dunia menyukai, aku kembali lagi. Kembali menyukai laki laki yang benar benar laki laki. Bukan Park Chanyeol, Oh Sehun, Xi Luhan, Lee Sungyeol atau dia. Laki laki yang bisa ku lihat setiap hari, laki laki yang bisa kutemui setiap saat. Itu menyenangkan.
 Well, aku sangat malu mengakuinya. Termasuk pada temanku. Kau tahu apa yang menyakitkan buat ku? Mungkin aku akan meniru kata kata Tak Ye Jin (The Producer) "Aku sangat menyukainya namun aku tak bisa cerita pada siapa pun dan itu menyakitkan" benar menyakitkan. Aku tidak suka bercerita tentang orang yang kusukai. Aku tidak suka saat dimana aku dan dia menjadi canggung karena orang orang membicarakan kami. Itu hanya akan membuatku jauh darinya.
 Mungkin dari tadi aku belum memberi tahu namanya. Kau bisa panggil dia Nathan, Adelio Nathan.
.
 Langkah ku begitu berat meninggalkan lapangan. Rasanya ingin berlama lama disitu untuk memperhatikanya. Namun aku tak bisa, guru olahraga ku yang satu ini benar benar menyebalkan. Disaat aku mulai menyukai pelajaran laknatnya itu. Dia malah membuatku menjadi membencinya lagi.
 Sedikit kuperhatikan lagi dia. Namun kaki ini terus melangkah mengikuti perintah. Yasudah, aku akan kembali ke kelasku lagi.
 Sebuah berita yang cukup manis ditelingaku. Sebuah bimbingan belajar tengah mengadakan seminar di ruang kelas ku. Itu berarti, satu sampai dua jam kedepan aku bisa melihatnya. Melihat Nathan di kelasku, sedikit lebih dekat.
 Namun itu hanyalah angan belaka. Aku tidak duduk di dekat barisan laki laki. Aku berada di ujung bersama temanku Fiyah. Melihat Nathan dari dekat hanya mencapai khayalan. Aku masih menatapnya dari jarak jauh dalam diam. Seminar telah dimulai, namun aku tidak memperhatikan tentor sama sekali. Mataku sedikit mencuri pandang ke arahnya. Setelah kurasa cukup, aku kembali menunduk menyembunyikan senyum.
 Dari sepersekian menit aku terus menatap Nathan, kakak tentor mulai mengadakan soal berhadiah. Sungguh aku tidak menginginkan hadiah dalam box itu. Aku hanya ingin Nathan melihatku. Setidaknya untuk yang pertama kalinya sejak aku menyukainya. Namun, lagi, itu hanya angan belaka. Ya ampun, apakan harapanku tentang Nathan hanya akan jadi angan biasa? Tanpa aku bisa mewujudkannya?
 Pukul sepuluh lewat sepuluh. Seminar selesai, doorprize juga sudah dibagikan. Aku hanya menghela nafas kecil menatapi punggung Nathan yang telah menjauh lalu menghilang. Aku segera bersiap berganti baju untuk latihan pramuka, setidaknya aku bisa melihat Nathan mendirikan tandu atau berjalan tegap di depanku.
 Takdir berkata lain. Sebagai wakil ketua OSIS, Nathan bertugas sebagai petugas upacara untuk Senin. Aku hanya tersenyum kecil menahan perih. Kurasa aku dan Nathan tidak bisa dekat dalam waktu dekat.
 Kurapikan baju lalu menuruni tangga. Mataku sedikit berkeliling mencari sosok Nathan. Nah, itu dia. Tengah mengikat tali sepatunya. Kurasa aku sudah mulai gila. Bahkan saat mengikat tali sepatu, aku berpikir ia tampak keren.
 Aku berjalan perlahan mengikuti barisan. Sengaja, agar aku bisa melihat Nathan sedikit lebih lama. Aku ingin mempercepat waktu agar bisa melihat Nathan lagi.
 Akan kulewati bagian yang menurutku tak penting. Ayolah, bukan berarti aku tak suka pramuka. Aku hanya malas menceritakan hal yang tidak ada Nathan didalamnya.
 Langkahku menuntunku kembali ke sekolah. Bisa kuintip sedikit kearah kelas Nathan. Lalu cepat cepat ambil langkah menuju kelasku. Semuanya begitu cepat. Setelah makan siang dan beberapa kegiatan lain, sekolah akan dibubarkan. Aku bahkan hanya melihat Nathan tidak lebih dari satu jam hari ini. Kebodohanku: Disaat orang yang kusukai berada di dekatku, aku bahkan tidak bisa melihatnya dengan baik. Bukan berarti mataku rabun atau sebagainya.
 Aku benar benar sudah gila. Aku akan mencuri pandang ke arah Nathan, tersenyum, lalu mengutuk diriku karena telah melakukannya. Aku tak tahu, bahkan sebagian dari diriku tidak rela aku bisa menyukai makhluk seperti Nathan. Bukannya Nathan aneh, autis atau idiot. Hanya saja sebagian dari diriku masih menyukai seseorang nun jauh disana. Jonathan.
 Baik, aku belum cerita apapun soal Jonathan. Karena namanya terlalu panjang, aku lebih suka memanggilnya Nathan. Aku mengenalnya lewat BlackBerry Messenger. Itu kali pertama ada seorang lelaki yang sependapat denganku. Disaat teman temanku lebih suka reggae, western, india atau semacamnya. Sedangkan dia? Entah apa yang merasuki ku sampai sampai aku bisa akrab denganya dalam waktu yang singkat.
 Lucu, tapi dia suka apa yang aku sukai. Dan dia tidak suka apa yang tidak aku sukai. Dan selang beberapa bulan aku menyukainya. Perasaanku bertambah saat Jonathan mulai menampakkan rasa sukanya padaku. Dia sudah menyatakan perasaannya padaku berkali kali. Namun selalu kutolak dengan halus. Aku dan dia sudah sering bercanda, kurasa itupun tidak akan menyakitinya kecuali aku menolaknya mentah mentah.
 Seperti yang kuduga, pukul satu siang kami pulang. Bisa kulihat Nathan dari sini. Tengah menggendong tas dengan arah mata yang berkeliaran mencari sesuatu. Andai sesuatu yang dicarinya itu aku. Aduh, aku benar benar gila. Segera ku ambil langkah mengabaikan Nathan yang masih sibuk mencari sesuatu.
 Aku pulang dengan langkah gontai seperti biasa. Segera ku lepas kaus kaki dan berjalan ke kamar.
 Ku hempaskan tubuhku dengan gusar. Satu setengah jam lagi aku ada les. Jadilah aku tidak bisa tidur setelah sekolah. Ku nyalakan ponselku dan mengecek dengan lesu. Sudah hampir tiga minggu Jonathan tidak menghubungiku. Itu yang membuatku khawatir. Biasanya Jonathan paling lama tidak menghubungiku dua minggu, selanjutnya? Dia akan terus menghubungiku seolah dia benar benar kehilangan aku. Ini sudah tiga minggu, aku benar benar ingin tau apa yang terjadi padanya.
 Jam terus saja berjalan sampai pukul dua siang. Aku segera bersiap dan pergi ke tempat les ku.
 Menjadi anak kelas tiga bukanlah suatu hal yang mudah. Kau akan banyak kegiatan. Banyak belajar, banyak tugas belum lagi mengurusi adik kecilku. Rasanya tidak lagi memiliki waktu untuk diriku sendiri. Tapi aku menyukainya.
 Kusempatkan membeli sebuah bubble tea. Minuman favorit ku. Lalu, kunaiki angkot yang mulai melaju lagi. Kurasa dari tadi aku hanya melamun. Sampai tak mengira salah satu teman les ku juga berada di angkot yang sama.
 Lagi, ku cek ponsel ku diiringi helaan nafas. Aku benar benar rindu Jonathan. Aku tak ingin berpaling dari Jonathan. Hanya karena adik kelasku yg tidak ada apa apanya dibanding Jonathan. Lihat? Mungkin beberapa jam yang lalu aku memuji muji Nathan dan memperhatikannya. Aku memang labil saat ini. Yang jelas, perasaan suka ku tidak lebih. Hanya karena dia sopan padaku, cukup.
 Aku menaiki tangga memasuki ruanganku. Sudah hampir penuh, aku berjalan menuju salah satu kursi di ujung didekat Fiyah dan Ica.
 Kakak pengajar sudah memasuki kelas. Bukannya aku tidak menyukai kakak pengajar, hanya saja hari ini begitu melelahkan hingga aku menenggelamkan wajah diatas bangku. Sama sekali tidak nyaman. Aku mengutuk siapapun yang membuat kursi ini. Bukannya aku bisa istirahat, tubuhku malah sakit semua.
 Ditengah pelajaran, aku merasakan satu mata kearahku. Mungkinkah aku terlalu mencolok dengan pakaian ini? Atau salah satu dari mereka menginginkan bubble tea ku? Masa bodoh dengan semua itu, aku kembali menyedot bubble tea ku lalu mengalihkan fokus ke papan tulis lagi.
 "Dimas, perhatikan ke depan!" Aku sedikit melirik kearah yang ditegur. Oh, itu yang namanya Dimas. Batinku.
 Sudah satu setengah jam aku duduk di kursi sialan ini. Akhirnya, bel istirahat berbunyi. Tak lama, mungkin hanya sepuluh atau lima belas menit. Aku segera mengambil nafas segar di bawah, membeli minum (lagi) mengetahui bubble tea ku sudah habis.
 Lagi, aku merasakan satu mata kearahku. Tuhann, apa ini? Sungguh aku benar benar tidak nyaman dengan ini. Atau ini hanya perasaan ku saja? Ah sudahlah, aku harus cepat cepat ke kelas lagi.
 "Woi Dimas, meleng aje!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar