Satu
minggu kemudian.
Aku benar benar kaget. Seperti kejatuhan
sebuah meteor. Itu membuatku shock. Aku tidak bisa menyalahkan Fillah, dia
tidak tahu apabila teman temanku memiliki tingkat penasaran yang berlebihan. Ya
tuhaann, aku ingin mengutuk siapapun yang mengetahui hal itu. Ya, aku mengutuk
teman teman ku yang laknat itu. Aku tak menyangka Fillah sedekat itu dengan
Dimas, hingga Dimas menceritakan semuanya. Semua perasaannya padaku. Ku kira
aku terlalu kasar, tapi itu benar menjijikkan. Seingatku, Dimas sudah memiliki
pacar dan aku cukup senang dengan itu.
Aku benar benar kaget. Satu hal yang terbesit
di hatiku hanya satu. Jonathan. Ingin sekali aku memeluknya saat ini dan
berkata aku sangat menyayanginya. Aku akan mengoceh tanpa henti mengatakan
bahwa aku tak peduli siapapun orang yang menyukaiku aku tetap mencintai seorang
Jonathan. Anggap aku gila. Jonathan nun jauh disana, aku tak tahu ia sedang
bersama siapa dan bagaimana perasaanya padaku. Namun aku tetap berkata aku mencintainya
seolah tak sadar bahwa aku telah jatuh cinta sendiri.
Ya tuhan yang ingin ku lakukan sekarang hanya
bertemu Jonathan. Ingin aku cepat cepat pulang dan mengirim pesan pada
Jonathan. Waktu berpihak padaku. Setidaknya aku tidak perlu melihat wajah wajah
penghinaan para teman temanku.
Sampai dirumah aku langsung menerobos pintu
dan mencari ponselku. Sial, ponselku habis baterai. Aku berusaha menenangkan
diriku dan aku berhasil. Sambil mencharger, aku tertidur kelelahan.
.
Alarm ku berbunyi, aku akan les hari ini. Aku
ingin diskusi perihal Fisika. Rajinnya aku, hahah.
Ku pakai setelan simple dengan sepatu hitam
yang hampir senada dengan bajuku. Ku cabut charger ponsel dan segera
mengaktifkannya. Aku berlari kecil ke arah jalan raya menyetop sebuah angkot.
Ponselku sudah aktif, langsung ku ketik pesan pada Jonathan.
"... Aku menyayangimu."
Sederhana. Namun aku merasa malu atas
tindakanku. Buru buru aku meralat ucapanku.
"... Aku sedang emosional tadi."
Tak lama, ponselku bergetar. Aku benar benar
takut membacanya.
"... Aku tahu wkwk."
Apa dia barusan tertawa? Tak tahukah dia apa
yang kurasakan saat ini? Dasar Jonathannnn.
Aku berhenti didepan tempat les ku dan
berpikir dua kali. Tapi, masa bodo soal Dimas, aku ingin belajar! Ku buka pintu
dan menemukan sosok yang tak asing bagiku. ASTAGA! Itu Kak Ryan. Ya tuhaann,
hentikan kutukan ini. Baik, setelah ku ingat memang banyak kesialanku akhir
akhir ini. Pertama: Aku mulai salah tingkah didepan adik kelasku sendiri,
Nathan. Kedua: Aku diajak berpacaran dengan Jonathan. Ketiga: Dimas menyukaiku.
Dan keempat: Aku bertemu Kak Ryan! Orang yang pernah kutolak cintanya! Aish,
rasanya aku ingin kabur. Namun kakak pengajar langsung menegurku dan mengajakku
duduk disebelahnya.
"Ada pr?" Ada pr katanya? Yang ada
hanya sial. Ingin sekali aku mengumpat saat ini. Ku normalkan deru nafas ku dan
mulai berbicara layaknya aku.
"Ada kak, Fisika, sebentar." Ku
keluarkan buku Fisika ku. Sungguh, karena aku handal soal pura pura tak
melihat, aku berhasil mengambil buku Fisika ku tanpa setitik pun melihat Kak
Ryan. Belum lima menit aku memperhatikan apa yang dijelaskan si Kakak. Kepala
ku sudah benar benar pusing. Oh ya tuhan, aku merasa seperti ada orang di
belakangku. Oh tidak, aku kenal suara itu. Suara bass yang biasa membentakku
sekitar dua tahun lalu. Apa ini? Aku tidak bisa bernafas, tanganku mulai
dibasahi keringat. Sial, aku bahkan tak bisa menggerakkan otot otot ku.
"Kak, boleh minta itu?" Aku melihat
tangan itu, tangan yang pernah menyentuh pipiku. Tangan yang 'hampir'
memelukku. Ya, hanya hampir. Karena saat itu, kucegah tanggannya yang ingin
menarikku lebih dekat. Yang benar saja, saat itu aku masih kelas satu SMP. Dan
dia sudah dua tahun lebih tua dari pada aku. Baik, bernafas secara normal. Aku
tidak akan mati bila melihat atau menyapanya.
Mungkin sekitar satu jam aku memperhatikan
kakak pengajar. Dan tidak lebih dari sepertiga dari yang kupelajari masuk ke
otakku. Setidaknya, walau hanya sepertiga, ada hasil dari pengorbananku. Hei,
aku mengorbankan waktu istirahatku. Harusnya ku nikmati waktu bercandaku dengan
Jonathan sore sore begini.
Hari ini sudah hampir berakhir. Ya, hari ini
dan semua kesialan ini. Kulangkahkan kaki ku keluar dari tempat les dan segera
menyebrang. Singkat cerita, aku sampai di rumah dan segera menghempas kan
tubuhku diranjang. Aku lelah sekali. Ku putar musik favorit ku.
"... Believe in me this time, Im sorry I
love you. Shining silver never lose that glow." Dan aku terlelap.
.
.
"Saraahhhh." Aku mengerjap kan
mataku beberapa kali. Ya tuhann pukul tujuh? Apa yang kumimpikan sore sore
begini hingga aku bangun pukul tujuh? Ah ralat, sore menjelang malam maksudku.
Aku sedikit menormalkan kondisi tubuhku. Dan segera menyiapkan air hangat.
Kubasuh tubuhku dan meresakan air yang
membasahi tiap tiap bagian di tubuhku. Rasanya menyenangkan. Seperti melarutkan
semua kesialanku begitu saja.
Kukeringkan tubuhku dan membalut nya dengan
piyama. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Aku sudah melewatkan waktu makan
malam. Tapi aku tidak merasa lapar. Mungkin efek stres. Ya tuhan, Dimas yang
menyukaiku, bukan sebaliknya. Tapi kenapa aku yang stres hah? Ibuku sudah
memasak masakan favoritku, sayang sekali bila tak kusentuh. Tapi apa daya,
rasanya tidak nafsu makan. Arghh, aku ingin tidur saja.
"... Sore ye."
"... Jgn lpa mkan."
Jonathan maafkan aku. Aku benar benar lelah.
"...
Jonathan, aku benar benar sial hari ini dan aku lelah. Maaf baru bisa
menghubungimu. Aku mau istirahat. Kau jangan tidur terlalu larut. Night, aku
sangat menyayangimu."
Lima menit kemudian, ponselku bergetar.
"... Kau lelah? Baiklah, istirahat lah
dengan baik. Aku akan datang ke mimpimu dan menghilangkan kesialan mu. Aku juga
menyayangimu, Sarah."
Darah ku berdesir saat membaca pesannya. Dia
menyebut namaku, Sarah. Baik Jonathan, kuharap kau benar benar akan datang di
mimpiku dan mengusir semua kesialanku.
.
Yep, aku terbangun pukul empat pagi. Aku tidak
bisa tidur lagi setelah itu. Yang benar saja, aku tidur jam setengah delapan
tepat setelah aku selesai mandi. Aku belum pernah tidur secepat itu. Kuputuskan
untuk membuka buku kumpulan soal untuk membuatku mengantuk kembali. Sayang,
bukan kantuk yang kudapat, aku malah tambah semangat. Aku terus mengerjakan
soal demi soal yang mungkin membuat teman temanku muntah. Akhirnya pukul enam
pagi, aku segera mandi dan bersiap ke sekolah.
Aku menaiki mobil yang akan mengantarku ke
sekolah. Hembusan angin pagi benar benar dingin. Jendela mobil terbuka lebar
membuat angin pagi masuk dan keluar begitu saja.
Mobil berhenti tepat didepan sekolahku.
Kunaiki tangga dan kulewati kelas Nathan. Kurasa masih terlalu pagi, Nathan
belum datang. Kumasuki kelas dan menduduki bangku ku. Ya, aku sedang ujian.
Ujian tengah semester. Yang menyebalkan, aku harus duduk di sebelah orang
menyebalkan ini. Aku tak mau menyebutkan namanya. Menyebutkannya saja,
membuatku muak.
Kubuka buku matematika ku dan mempelajari
lembar demi lembar. Kuharap apa yang kupelajari akan ada di soal. Oh tidak,
guru olahragaku yang menyebalkan telah memasuki kelas. Sejak kapan dia jadi
suka memasuki kelas ku? Aku komat kamit membaca mantra untuk mengusirnya. Mulai
dari Abracadabra, sampai hokus pokus tralala/?. Benar kan? Aku menjadi error
hanya dengan melihat si guru olahraga yang menyebalkan ini.
Akhirnya guru yang sebenarnya datang. Guru
matematika ku. Kututup buku dan menaruhnya didalam tas. Seperti apa perasaanku
saat ini? Seperti sebuah gado gado. Campur aduk.
Kubuka lembar demi lembar soal. Apa ini? Kongruen? Sebangun? Peluang? Kenapa
semua yang kupelajari hilang? Ya tuhann. Kurasa hanya keberuntungan yang bisa
membuat nilai ujian matematika ku tuntas. Ku hitung satu demi satu soal yang
ada di depanku. Kurasa ada kurang dari dua puluh soal yang bisa kujawab.
Sisanya ku serahkan pada Yang Maha Kuasa.
Aku melihat Nathan dari pintu kelas. Dia
melihat ke arah kelasku. Sayang, aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Dia
bahkan tak melirik kearah ku. Aku yakin, tatapan ku tak akan pernah bertemu
dengan nya.
Ujian jam kedua adalah Bahasa Inggris. Baik,
aku yakin aku handal di bidang ini. Aku juga yakin tidak akan ada ritual contek
mencontek karena pengawas adalah kepala sekolah. Bukannya aku sombong, hanya
saja, kepala sekolah sangat bersahabat dengan ku. Ya, karena aku suka cari muka
di depannya. Haha, nilai tuntas bukanlah impian lagi.
Pukul sebelas, aku pulang. Hari ini aku tidak
keluar kelas hingga tak bisa melihat Nathan seperti kemarin. Ya, aku memang
mulai gila gara gara Nathan. Tapi itu takkan membuatku menempatkan ujian di
tempat kedua. Kurasa kurang lebih seminggu kedepan aku akan vakum memperhatikan
Nathan.
Aku pulang dan segera meraih ponsel. Ada
notif pesan. Kuharap dari Jonathan. Dan aku salah. Itu dari operator. Operator
sialan.
Aku menduduki pinggiran ranjang dan
menjatuhkan kepalaku di bantal. Entah kenapa aku sangat lelah.
Sampai kapan aku akan bermimpi Jonathan akan
jadi milikku. Jonathan sudah memiliki pacar. Teman masa kecilnya sendiri. Aku
pun sering mendengar cerita keakraban mereka melalui Jonathan. Aku akan merasa
menjadi perempuan yang sangat jahat jika memisahkan mereka berdua. Tak jarang
aku menangisi diriku sendiri. Jonathan aku mencintaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar