Sabtu, 12 Desember 2015

Chap 3 : Still Love You


Satu minggu kemudian.
 Aku benar benar kaget. Seperti kejatuhan sebuah meteor. Itu membuatku shock. Aku tidak bisa menyalahkan Fillah, dia tidak tahu apabila teman temanku memiliki tingkat penasaran yang berlebihan. Ya tuhaann, aku ingin mengutuk siapapun yang mengetahui hal itu. Ya, aku mengutuk teman teman ku yang laknat itu. Aku tak menyangka Fillah sedekat itu dengan Dimas, hingga Dimas menceritakan semuanya. Semua perasaannya padaku. Ku kira aku terlalu kasar, tapi itu benar menjijikkan. Seingatku, Dimas sudah memiliki pacar dan aku cukup senang dengan itu.
 Aku benar benar kaget. Satu hal yang terbesit di hatiku hanya satu. Jonathan. Ingin sekali aku memeluknya saat ini dan berkata aku sangat menyayanginya. Aku akan mengoceh tanpa henti mengatakan bahwa aku tak peduli siapapun orang yang menyukaiku aku tetap mencintai seorang Jonathan. Anggap aku gila. Jonathan nun jauh disana, aku tak tahu ia sedang bersama siapa dan bagaimana perasaanya padaku. Namun aku tetap berkata aku mencintainya seolah tak sadar bahwa aku telah jatuh cinta sendiri.
 Ya tuhan yang ingin ku lakukan sekarang hanya bertemu Jonathan. Ingin aku cepat cepat pulang dan mengirim pesan pada Jonathan. Waktu berpihak padaku. Setidaknya aku tidak perlu melihat wajah wajah penghinaan para teman temanku.
 Sampai dirumah aku langsung menerobos pintu dan mencari ponselku. Sial, ponselku habis baterai. Aku berusaha menenangkan diriku dan aku berhasil. Sambil mencharger, aku tertidur kelelahan.
.
 Alarm ku berbunyi, aku akan les hari ini. Aku ingin diskusi perihal Fisika. Rajinnya aku, hahah.
 Ku pakai setelan simple dengan sepatu hitam yang hampir senada dengan bajuku. Ku cabut charger ponsel dan segera mengaktifkannya. Aku berlari kecil ke arah jalan raya menyetop sebuah angkot. Ponselku sudah aktif, langsung ku ketik pesan pada Jonathan.
 "... Aku menyayangimu."
 Sederhana. Namun aku merasa malu atas tindakanku. Buru buru aku meralat ucapanku.
 "... Aku sedang emosional tadi."
 Tak lama, ponselku bergetar. Aku benar benar takut membacanya.
 "... Aku tahu wkwk."
 Apa dia barusan tertawa? Tak tahukah dia apa yang kurasakan saat ini? Dasar Jonathannnn.
 Aku berhenti didepan tempat les ku dan berpikir dua kali. Tapi, masa bodo soal Dimas, aku ingin belajar! Ku buka pintu dan menemukan sosok yang tak asing bagiku. ASTAGA! Itu Kak Ryan. Ya tuhaann, hentikan kutukan ini. Baik, setelah ku ingat memang banyak kesialanku akhir akhir ini. Pertama: Aku mulai salah tingkah didepan adik kelasku sendiri, Nathan. Kedua: Aku diajak berpacaran dengan Jonathan. Ketiga: Dimas menyukaiku. Dan keempat: Aku bertemu Kak Ryan! Orang yang pernah kutolak cintanya! Aish, rasanya aku ingin kabur. Namun kakak pengajar langsung menegurku dan mengajakku duduk disebelahnya.
 "Ada pr?" Ada pr katanya? Yang ada hanya sial. Ingin sekali aku mengumpat saat ini. Ku normalkan deru nafas ku dan mulai berbicara layaknya aku.
 "Ada kak, Fisika, sebentar." Ku keluarkan buku Fisika ku. Sungguh, karena aku handal soal pura pura tak melihat, aku berhasil mengambil buku Fisika ku tanpa setitik pun melihat Kak Ryan. Belum lima menit aku memperhatikan apa yang dijelaskan si Kakak. Kepala ku sudah benar benar pusing. Oh ya tuhan, aku merasa seperti ada orang di belakangku. Oh tidak, aku kenal suara itu. Suara bass yang biasa membentakku sekitar dua tahun lalu. Apa ini? Aku tidak bisa bernafas, tanganku mulai dibasahi keringat. Sial, aku bahkan tak bisa menggerakkan otot otot ku.
 "Kak, boleh minta itu?" Aku melihat tangan itu, tangan yang pernah menyentuh pipiku. Tangan yang 'hampir' memelukku. Ya, hanya hampir. Karena saat itu, kucegah tanggannya yang ingin menarikku lebih dekat. Yang benar saja, saat itu aku masih kelas satu SMP. Dan dia sudah dua tahun lebih tua dari pada aku. Baik, bernafas secara normal. Aku tidak akan mati bila melihat atau menyapanya.
 Mungkin sekitar satu jam aku memperhatikan kakak pengajar. Dan tidak lebih dari sepertiga dari yang kupelajari masuk ke otakku. Setidaknya, walau hanya sepertiga, ada hasil dari pengorbananku. Hei, aku mengorbankan waktu istirahatku. Harusnya ku nikmati waktu bercandaku dengan Jonathan sore sore begini.
 Hari ini sudah hampir berakhir. Ya, hari ini dan semua kesialan ini. Kulangkahkan kaki ku keluar dari tempat les dan segera menyebrang. Singkat cerita, aku sampai di rumah dan segera menghempas kan tubuhku diranjang. Aku lelah sekali. Ku putar musik favorit ku.
 "... Believe in me this time, Im sorry I love you. Shining silver never lose that glow." Dan aku terlelap.
.
.
 "Saraahhhh." Aku mengerjap kan mataku beberapa kali. Ya tuhann pukul tujuh? Apa yang kumimpikan sore sore begini hingga aku bangun pukul tujuh? Ah ralat, sore menjelang malam maksudku. Aku sedikit menormalkan kondisi tubuhku. Dan segera menyiapkan air hangat.
 Kubasuh tubuhku dan meresakan air yang membasahi tiap tiap bagian di tubuhku. Rasanya menyenangkan. Seperti melarutkan semua kesialanku begitu saja.
 Kukeringkan tubuhku dan membalut nya dengan piyama. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Aku sudah melewatkan waktu makan malam. Tapi aku tidak merasa lapar. Mungkin efek stres. Ya tuhan, Dimas yang menyukaiku, bukan sebaliknya. Tapi kenapa aku yang stres hah? Ibuku sudah memasak masakan favoritku, sayang sekali bila tak kusentuh. Tapi apa daya, rasanya tidak nafsu makan. Arghh, aku ingin tidur saja.
 "... Sore ye."
 "... Jgn lpa mkan."
 Jonathan maafkan aku. Aku benar benar lelah.
 "... Jonathan, aku benar benar sial hari ini dan aku lelah. Maaf baru bisa menghubungimu. Aku mau istirahat. Kau jangan tidur terlalu larut. Night, aku sangat menyayangimu."
 Lima menit kemudian, ponselku bergetar.
 "... Kau lelah? Baiklah, istirahat lah dengan baik. Aku akan datang ke mimpimu dan menghilangkan kesialan mu. Aku juga menyayangimu, Sarah."
 Darah ku berdesir saat membaca pesannya. Dia menyebut namaku, Sarah. Baik Jonathan, kuharap kau benar benar akan datang di mimpiku dan mengusir semua kesialanku.
.
 Yep, aku terbangun pukul empat pagi. Aku tidak bisa tidur lagi setelah itu. Yang benar saja, aku tidur jam setengah delapan tepat setelah aku selesai mandi. Aku belum pernah tidur secepat itu. Kuputuskan untuk membuka buku kumpulan soal untuk membuatku mengantuk kembali. Sayang, bukan kantuk yang kudapat, aku malah tambah semangat. Aku terus mengerjakan soal demi soal yang mungkin membuat teman temanku muntah. Akhirnya pukul enam pagi, aku segera mandi dan bersiap ke sekolah.
 Aku menaiki mobil yang akan mengantarku ke sekolah. Hembusan angin pagi benar benar dingin. Jendela mobil terbuka lebar membuat angin pagi masuk dan keluar begitu saja.
 Mobil berhenti tepat didepan sekolahku. Kunaiki tangga dan kulewati kelas Nathan. Kurasa masih terlalu pagi, Nathan belum datang. Kumasuki kelas dan menduduki bangku ku. Ya, aku sedang ujian. Ujian tengah semester. Yang menyebalkan, aku harus duduk di sebelah orang menyebalkan ini. Aku tak mau menyebutkan namanya. Menyebutkannya saja, membuatku muak.
 Kubuka buku matematika ku dan mempelajari lembar demi lembar. Kuharap apa yang kupelajari akan ada di soal. Oh tidak, guru olahragaku yang menyebalkan telah memasuki kelas. Sejak kapan dia jadi suka memasuki kelas ku? Aku komat kamit membaca mantra untuk mengusirnya. Mulai dari Abracadabra, sampai hokus pokus tralala/?. Benar kan? Aku menjadi error hanya dengan melihat si guru olahraga yang menyebalkan ini.
 Akhirnya guru yang sebenarnya datang. Guru matematika ku. Kututup buku dan menaruhnya didalam tas. Seperti apa perasaanku saat ini? Seperti sebuah gado gado. Campur aduk.
 Kubuka lembar demi lembar soal. Apa ini? Kongruen? Sebangun? Peluang? Kenapa semua yang kupelajari hilang? Ya tuhann. Kurasa hanya keberuntungan yang bisa membuat nilai ujian matematika ku tuntas. Ku hitung satu demi satu soal yang ada di depanku. Kurasa ada kurang dari dua puluh soal yang bisa kujawab. Sisanya ku serahkan pada Yang Maha Kuasa.
 Aku melihat Nathan dari pintu kelas. Dia melihat ke arah kelasku. Sayang, aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Dia bahkan tak melirik kearah ku. Aku yakin, tatapan ku tak akan pernah bertemu dengan nya.
 Ujian jam kedua adalah Bahasa Inggris. Baik, aku yakin aku handal di bidang ini. Aku juga yakin tidak akan ada ritual contek mencontek karena pengawas adalah kepala sekolah. Bukannya aku sombong, hanya saja, kepala sekolah sangat bersahabat dengan ku. Ya, karena aku suka cari muka di depannya. Haha, nilai tuntas bukanlah impian lagi.
 Pukul sebelas, aku pulang. Hari ini aku tidak keluar kelas hingga tak bisa melihat Nathan seperti kemarin. Ya, aku memang mulai gila gara gara Nathan. Tapi itu takkan membuatku menempatkan ujian di tempat kedua. Kurasa kurang lebih seminggu kedepan aku akan vakum memperhatikan Nathan.
  Aku pulang dan segera meraih ponsel. Ada notif pesan. Kuharap dari Jonathan. Dan aku salah. Itu dari operator. Operator sialan.
 Aku menduduki pinggiran ranjang dan menjatuhkan kepalaku di bantal. Entah kenapa aku sangat lelah.
 Sampai kapan aku akan bermimpi Jonathan akan jadi milikku. Jonathan sudah memiliki pacar. Teman masa kecilnya sendiri. Aku pun sering mendengar cerita keakraban mereka melalui Jonathan. Aku akan merasa menjadi perempuan yang sangat jahat jika memisahkan mereka berdua. Tak jarang aku menangisi diriku sendiri. Jonathan aku mencintaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar