Kurasa
aku tertidur. Baik, daripada aku terus terus memikirkan Jonathan lebih baik aku
les.
Kuganti pakaianku dan memakai sepatu sneakers.
Kunaiki angkot dan mengecek ponsel. Aku ingin mengirim pesan pada Jonathan.
Tapi entahlah, Jonathan pasti sangat sibuk hari ini.
Aku menyetop angkot dan langsung memasuki
gedung les. Aku langsung mencari cari kakak yang mengajar fisika. Tidak ada?
Mungkin lagi ada jam mengajar. Kuputuskan untuk diskusi Bahasa Indonesia
bersama Kak Lia.
"Ada pr?" Kata kata yang sering
diucapkan jika aku mendatangi salah satu kakak pengajar.
"Tidak ada, hanya ingin diskusi."
Keluarkan buku kumpulan soal dan membahasnya
bersama.
Kurasa aku sedang diperhatikan seseorang. Oh
tidak, kumohon siapa saja asal jangan Dimas. Kucari sepasang mata yang
menatapku. Dan sial, mataku bertemu Dimas. Ya, dia yang sedari tadi menatapku.
Ku acuhkan dia, bersikap seperti biasa seperti tidak ada yang terjadi. Kurasa
Dimas belum tahu jika aku mengetahui rahasia nya.
Sudah satu jam berlalu. Jam si kakak pengajar
fisika pasti sudah selesai. Tuh kan, aku melihatnya berjalan menuruni tangga.
Bukan hanya aku, Fiyah juga berperndapat bahwa si kakak fisika memang tampan.
Namanya Dio. Namanya saja sudah seperti nama seorang main vocal di EXO. Aku
tidak genit, menyukai kakak pengajarku sendiri. Bukankah judul Chapter ini
adalah Still Love You? Jadi aku tidak akan mencintai siapapun kecuali Jonathan.
Aku mulai menjatuhi Kak Dio dengan bertupuk
soal di depanku. Dia mulai geleng geleng. Aku dan Kak Dio memulai diskusi.
Fiyah yang sedari tadi bersamaku tapi kuabaikan juga ikut memulai diskusi.
"Baik, sebelum melakukan operasi perkalian,
coret dulu satuannya. Celcius dengan celsius, kilogram dengan kilogram. Dan,
eh? Apa ini?" Ingin sekali aku menghamburkan tawa ku didepannya dan
berkata, "Kak, itu tulisanmu sendiri." Namun itu hanya ingin. Jika
kebanyakan orang terkadang tidak bisa membaca tulisan orang lain, berbeda
dengan Kak Dio, dia tidak bisa membaca tulisannga sendiri.
Satu jam berlalu dan sekarang hampir pukul
enam sore. Aku mengemas buku ku dan pamit pada Kak Dio.
Jalanan sangat ramai saat itu. Sudah sore
juga. Matahari seperti sudah robek hingga terlihat semburat merah dilangit.
Akan sangat damai bila melihat matahari terbenam tanpa berisik kendaraan. Aku
kembali menaiki angkot dan pulang ke rumah.
Jalan raya menuju rumahku tidak terlalu jauh.
Walau sebentar, aku bisa melihat matahari terbenam sebelum benar benar
menghilang. Jonathan, akankah kita bisa melihat matahari terbenam bersama suatu
saat nanti?
Kumasuki kamarku dan bersiap untuk mandi.
Tanpa air hangat, kurasa akan berbeda dari hari kemarin. Sungguh, aku akan
lebih lama mandi jika airnya dingin. Benar saja, saraf ku seperti dikejutkan.
Akan menggigil bila tetesan air itu mengenai tubuhku. Entahlah, aku tak tau
mengapa aku takut air dingin.
Akhirnya ritual mandi ku selesai. Dengan tubuh
gemetar aku memakai piyama favoritku dan makan malam.
.
"... Sore ye."
Tak kubalas, aku tak tahu apa yang merasukiku
hingga soal soal fisika dan matematika membuatku melupakan Jonathan. Maaf
Jonathan, aku benar benar tidak ingin diganggu sekarang.
Arghh, konsentrasiku pecah. Akhirnya kubalas
pesan Jonathan.
"... Ini udh malem, jgn lpa mkan."
Lima
belas menit kemudian ponselku bergetar.
"... Iya, kau juga."
.
Pukul delapan malam aku menikmati waktu
istirahatku. Tanpa memikirkan soal ujian besok. Ku buka laptop dan mulai mencari
info soal Bias.
Sebut aku pemalas, itu memang aku. Seperti
masa bodo dengan ujian besok aku senyum
senyum di depan laptop melihat foto foto biasku
tertampang disana. Menjadi fangirl
membuatku lupa akan semuanya.
Fangirl
adalah alasan kesekian kali ku untuk menolak cinta seseorang. Karena aku yakin,
lelaki manapun tak akan betah denganku. Lagipula aku masih SMP dan cerita
hidupku masih panjang (semoga). Aku mulai memikirkan Dimas. Apa yang harus
kulakukan dengan anak itu? Apa aku harus berkata kalau aku lebih menyukai
Jonathan daripada dia? Apa aku harus berkata bahwa sampai kapanpun aku tetap
akan menyukai Jonathan?
Aku bukan perempuan kejam. Aku akan menolak
seseorang dengan halus. Aku juga akan menasihatinya bila perlu. Itu akan
membuat kharismaku semakin terlihat.
Tapi itu seperti menjatuhkan diriku di sebuah lubang buaya. Bukannya aku
terlalu percaya diri tapi Dimas akan semakin menyukaiku. Ya tuhan, apa yang
harus kulakukan?
Hei, sadarlah Sarah! Kau memikirkan Dimas
sampai kau melupakan tumpukan soal didepanmu.
Aku benar benar kacau. Akhirnya, yang
kulakukan hanyalah mengerjakan beberapa soal kecil lalu memainkan ponselku.
Ralat, aku bukan memainkan ponsel. Hanya menyalakannya. Yang benar saja, ibuku
tidak memperbolehkan ayahku memasang wifi. Mungkin aku akan lebih pintar karena
sering mencari 'sesuatu' di internet.
Ya, dengan internet aku juga belajar berbakti
pada suami/? Mungkin, jika kau seorang fangirl kelas kakap kau akan mengerti
apa maksudku. Sebut aku penghayal ulung. Aku sering berteriak bahwa aku
menyukai Chanyeol dan Sehun apapun yang terjadi. Kau tahu apa yang temanku
katakan saat aku mulai berkhayal?
"Bermimpilah setinggi langit, kelak kau
akan jatuh diantara bintang bintang." Lalu ia meralat ucapannya.
"Tapi jika berkhayal seperti kau, kau bukan jatuh diantara bintang
bintang, tapi jatuh diantara meteor meteor." aku ingin tertawa, tapi aku
juga ingin menangis. Kata kata itu seperti tamparan lembut bagiku. Sampai kapan
aku tersenyum melihat Sehun bernyanyi dan menangis melihat Chanyeol bersama
perempuan lain?
Oke, berfikir secara rasional. Setidaknya jika
aku tidak bisa berjodoh dengan Chanyeol ataupun Sehun, aku mungkin bisa
mendapat lelaki yang bisa menerimaku dengan keadaan ku seperti ini.
Ah, bodohnya aku! Aku menghabiskan satu jam
hanya untuk merutuki diriku!? Baik aku tidur dan menghentikan aktifitas
memalukan ini.
"... Night."
Jonathan, lebih baik jika kau tidur sekarang.
"... Night too."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar