Sabtu, 12 Desember 2015

Chap 4 : Will I Can See Sunset With You?


Kurasa aku tertidur. Baik, daripada aku terus terus memikirkan Jonathan lebih baik aku les.
 Kuganti pakaianku dan memakai sepatu sneakers. Kunaiki angkot dan mengecek ponsel. Aku ingin mengirim pesan pada Jonathan. Tapi entahlah, Jonathan pasti sangat sibuk hari ini.
 Aku menyetop angkot dan langsung memasuki gedung les. Aku langsung mencari cari kakak yang mengajar fisika. Tidak ada? Mungkin lagi ada jam mengajar. Kuputuskan untuk diskusi Bahasa Indonesia bersama Kak Lia.
 "Ada pr?" Kata kata yang sering diucapkan jika aku mendatangi salah satu kakak pengajar.
 "Tidak ada, hanya ingin diskusi."
 Keluarkan buku kumpulan soal dan membahasnya bersama.
 Kurasa aku sedang diperhatikan seseorang. Oh tidak, kumohon siapa saja asal jangan Dimas. Kucari sepasang mata yang menatapku. Dan sial, mataku bertemu Dimas. Ya, dia yang sedari tadi menatapku. Ku acuhkan dia, bersikap seperti biasa seperti tidak ada yang terjadi. Kurasa Dimas belum tahu jika aku mengetahui rahasia nya.
  Sudah satu jam berlalu. Jam si kakak pengajar fisika pasti sudah selesai. Tuh kan, aku melihatnya berjalan menuruni tangga. Bukan hanya aku, Fiyah juga berperndapat bahwa si kakak fisika memang tampan. Namanya Dio. Namanya saja sudah seperti nama seorang main vocal di EXO. Aku tidak genit, menyukai kakak pengajarku sendiri. Bukankah judul Chapter ini adalah Still Love You? Jadi aku tidak akan mencintai siapapun kecuali Jonathan.
 Aku mulai menjatuhi Kak Dio dengan bertupuk soal di depanku. Dia mulai geleng geleng. Aku dan Kak Dio memulai diskusi. Fiyah yang sedari tadi bersamaku tapi kuabaikan juga ikut memulai diskusi.
 "Baik, sebelum melakukan operasi perkalian, coret dulu satuannya. Celcius dengan celsius, kilogram dengan kilogram. Dan, eh? Apa ini?" Ingin sekali aku menghamburkan tawa ku didepannya dan berkata, "Kak, itu tulisanmu sendiri." Namun itu hanya ingin. Jika kebanyakan orang terkadang tidak bisa membaca tulisan orang lain, berbeda dengan Kak Dio, dia tidak bisa membaca tulisannga sendiri.
 Satu jam berlalu dan sekarang hampir pukul enam sore. Aku mengemas buku ku dan pamit pada Kak Dio.
 Jalanan sangat ramai saat itu. Sudah sore juga. Matahari seperti sudah robek hingga terlihat semburat merah dilangit. Akan sangat damai bila melihat matahari terbenam tanpa berisik kendaraan. Aku kembali menaiki angkot dan pulang ke rumah.
 Jalan raya menuju rumahku tidak terlalu jauh. Walau sebentar, aku bisa melihat matahari terbenam sebelum benar benar menghilang. Jonathan, akankah kita bisa melihat matahari terbenam bersama suatu saat nanti?
 Kumasuki kamarku dan bersiap untuk mandi. Tanpa air hangat, kurasa akan berbeda dari hari kemarin. Sungguh, aku akan lebih lama mandi jika airnya dingin. Benar saja, saraf ku seperti dikejutkan. Akan menggigil bila tetesan air itu mengenai tubuhku. Entahlah, aku tak tau mengapa aku takut air dingin.
 Akhirnya ritual mandi ku selesai. Dengan tubuh gemetar aku memakai piyama favoritku dan makan malam.
.
 "... Sore ye."
 Tak kubalas, aku tak tahu apa yang merasukiku hingga soal soal fisika dan matematika membuatku melupakan Jonathan. Maaf Jonathan, aku benar benar tidak ingin diganggu sekarang.
 Arghh, konsentrasiku pecah. Akhirnya kubalas pesan Jonathan.
 "... Ini udh malem, jgn lpa mkan."
Lima belas menit kemudian ponselku bergetar.
 "... Iya, kau juga."
.
 Pukul delapan malam aku menikmati waktu istirahatku. Tanpa memikirkan soal ujian besok. Ku buka laptop dan mulai mencari info soal Bias.
 Sebut aku pemalas, itu memang aku. Seperti masa bodo dengan ujian besok  aku senyum senyum di depan laptop melihat foto foto biasku tertampang disana. Menjadi fangirl membuatku lupa akan semuanya.
 Fangirl adalah alasan kesekian kali ku untuk menolak cinta seseorang. Karena aku yakin, lelaki manapun tak akan betah denganku. Lagipula aku masih SMP dan cerita hidupku masih panjang (semoga). Aku mulai memikirkan Dimas. Apa yang harus kulakukan dengan anak itu? Apa aku harus berkata kalau aku lebih menyukai Jonathan daripada dia? Apa aku harus berkata bahwa sampai kapanpun aku tetap akan menyukai Jonathan?
 Aku bukan perempuan kejam. Aku akan menolak seseorang dengan halus. Aku juga akan menasihatinya bila perlu. Itu akan membuat kharismaku semakin terlihat. Tapi itu seperti menjatuhkan diriku di sebuah lubang buaya. Bukannya aku terlalu percaya diri tapi Dimas akan semakin menyukaiku. Ya tuhan, apa yang harus kulakukan?
 Hei, sadarlah Sarah! Kau memikirkan Dimas sampai kau melupakan tumpukan soal didepanmu.
 Aku benar benar kacau. Akhirnya, yang kulakukan hanyalah mengerjakan beberapa soal kecil lalu memainkan ponselku. Ralat, aku bukan memainkan ponsel. Hanya menyalakannya. Yang benar saja, ibuku tidak memperbolehkan ayahku memasang wifi. Mungkin aku akan lebih pintar karena sering mencari 'sesuatu' di internet.
 Ya, dengan internet aku juga belajar berbakti pada suami/? Mungkin, jika kau seorang fangirl kelas kakap kau akan mengerti apa maksudku. Sebut aku penghayal ulung. Aku sering berteriak bahwa aku menyukai Chanyeol dan Sehun apapun yang terjadi. Kau tahu apa yang temanku katakan saat aku mulai berkhayal?
 "Bermimpilah setinggi langit, kelak kau akan jatuh diantara bintang bintang." Lalu ia meralat ucapannya. "Tapi jika berkhayal seperti kau, kau bukan jatuh diantara bintang bintang, tapi jatuh diantara meteor meteor." aku ingin tertawa, tapi aku juga ingin menangis. Kata kata itu seperti tamparan lembut bagiku. Sampai kapan aku tersenyum melihat Sehun bernyanyi dan menangis melihat Chanyeol bersama perempuan lain?
 Oke, berfikir secara rasional. Setidaknya jika aku tidak bisa berjodoh dengan Chanyeol ataupun Sehun, aku mungkin bisa mendapat lelaki yang bisa menerimaku dengan keadaan ku seperti ini.
 Ah, bodohnya aku! Aku menghabiskan satu jam hanya untuk merutuki diriku!? Baik aku tidur dan menghentikan aktifitas memalukan ini.
 "... Night."
 Jonathan, lebih baik jika kau tidur sekarang.
 "... Night too."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar