Rabu, 30 Desember 2015

Chap 7: My Day, Without You


Sudah lewat kurang lebih dua minggu, Jonathan tidak menghubungiku. Aku tak heran. Aku sudah berhenti menghubunginya. Aku hanya berhenti, tidak menjauh. Aku ingin melihat, apakah Jonathan akan balik menghubungiku. Tapi, melihat dia yang tanpa kabar sampai sekarang, tanpa diucapkan, aku tahu Jonathan sudah melupakanku.
 Layaknya perempuan biasa, aku menangis saat memikirkannya. Dadaku sesak saat mengucapkan namanya. Senyumku pudar tatkala mengingatnya.
 Nathan, bagaimana aku bisa melupakan Jonathan? Apakah aku harus berpaling dari Jonathan dan beralih menyukai Nathan? Adik kelasku? Ukh, itu bukan aku. Aku akan vakum lagi dari dunia menyukai laki laki. Haha, aneh memang. Tapi aku perlu waktu sekitar dua atau tiga bulan. Waktu untuk menikmati masa masa tanpa memikirkan orang yang biasa menyakitiku.
 Namun, hari demi hari berlalu. Semuanya terasa lebih aneh dari sebelumnya. Mulai dari tingkah lakuku yang semakin menjadi jadi bila melihat Nathan. Bila biasanya aku hanya memasang wajah dingin saat berpapasan dengannya, sekarang sudah jauh beda. Jatungku berdebar lebih kencang, keringat ku mengalir membasahi telapak tangan. Aku bahkan memilih jalan memutar bila berpapasan dengan Nathan.
 Lalu, soal Fillah. Saat itu guruku menugaskan kami untuk melakukan drama. Aku satu kelompok dengan Putri, Yoga, Rahma, Reyhan dan Fillah. Kelompok yang mungkin cukup baik.
  Saat kami memutuskan untuk latihan bersama di rumah Ica, Nabilah sedikit menunjukkan kode padaku.
 "Sarah, jangan pulang dulu. Nanti ayam gorengnya buat aku lho." Perkataannya itu membuatku bingung. Siapa yang membelikanku ayam goreng? Yoga? Tidak mungkin, dia adalah gebetan teman dekatku Fiyah. Reyhan? Apalagi, dia juga gebetan Nabilah. Lalu? Masa Fillah? Tidak tidak. Aku menggelengkan kepalaku. Fillah menyukai Adel. Tidak mungkin.
 Lalu, setelah menunggu sekitar satu jam. Farhan, Irfan, Fillah, Reyhan dan yang lainnya datang. Sumpah, ingin ku kutuk mereka! Datang jam segini, sudah sore juga. Arghh.
 "Kenapa lama sekali? Ini sudah sore ngerti?" Aku belum pernah memarahi anak laki laki sedekat ini.
 "Maaf, tadi gerimis." Oh ya tuhan, hanya gerimis? Baik, ku netralkan emosiku dan latihan drama seadanya.
 Jam dirumah Ica menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku segera berpamitan pada neneknya Ica dan berniat menaiki sepedaku.
 "Reyhan, hati hati ya." Kata kata itu kudengan jelas dari Nabilah. Ukh, aku ingin ke toilet.
 "Apaan sih? Kamu kan juga punya. Tuh!" Telunjuk Nabilah mengarah pada Fillah. Holly crap, apa lagi ini? Fillah? T-I-D-A-K  M-U-N-G-K-I-N. Itu mustahil. Baik, aku harus cepat cepat pergi dari tempat menyebalkan ini. Segera kupakai headphone ku dan mengayuh sepeda sekuat kuatnya.
 Semuanya lancar saja sampai terdengan bunyi klakson motor milik Fiyah. "Sarah!" Tegurnya. Karena hari sudah mendung, aku hanya tersenyum dan meneriakkan, "Hati hati, jangan ngebut!". Saat itulah aku mendengar teriakan yang sudah tak asing di telingaku. Aku menoleh pada Fillah. Tatapan kami bertemu cukup lama, bahkan saat aku sudah berbelok. Baik baik, It's just Fillah. Hanya anak laki laki dikelasku yang suka bikin baper anak orang. Aku akan terbiasa dengan ini. Dia hanya ingin menjebakku, sama seperti perempuan perempuan lainnya.
 Aku pulang, segera mengambil handuk dan mandi. Hari ini, cepatlah berakhir. Aku mohon.
 Sangking lelahnya aku, aku tertidur di ruang keluarga. Tak kudengar ocehan lucu dari adik bungsuku, teriakan aneh dari adik ku yang pertama. Atau suara iklan tv yang begitu memuakkan.
.
 Ajaib memang, semalam aku tidur di ruang tv. Dan sekarang aku bangun diatas ranjang favoritku. Mungkin semalam ibuku sempat menyeretku kedalam kamar.
 Seperti biasa, aku mandi, memakai seragam, merampas beberapa alat tulis dan buku dari lemari, dan menenteng kaus kaki. Klakson mobil yang biasa menjemputku juga sudah teriak teriak dari tadi.
 Roda mobil terus berputar mengantarku ke sekolah. Aku menaiki tangga dan dengan cepat melewati kelas Nathan.
 Aku harus cepat mengalihkan perasaanku. Kalau terus berada di dekat Nathan, aku akan semakin gila.
 Tapi, masa iya aku harus menganggap kejadian sore kemarin adalah pertanda? Arghh, jangan bodoh Sarah! Kau tidak boleh terpikat sedikitpun pada Fillah. Ya tuhannn.
.
.
 Hari hari berlalu, bersamaan dengan pementasan drama laknat yang benar benar menyebalkan itu. Kalau bukan karena Yoga adalah gebetan Fiyah, akan kubentak bentak dia karena tidak mau menghafal naskah.
 Baik, itu sudah berlalu. Aku tidak mau mengungkitnya lagi. Terlalu menyebalkan.
 Aku baru sadar, ternyata hidupku tanpa Jonathan tidak terlalu buruk. Aku memiliki teman teman disampingku yang selalu mendukungku. Walau mereka benar benar menyebalkan. Kuakui, aku akan merindukan mereka saat sudah lulus nanti.
 Besok, sekolah seperti mengadakan sebuah acara yang mengharuskan semua siswa menginap di sekolah. Kami sudah pernah melakukannya tahun lalu. Dan cukup menyenangkan.
 "Besok malam, kita jujur jujuran yuk? Udah lama banget gak main begituan." Usul Andin. Baiklah, jika aku ditanya aku menyukai siapa. Aku tidak perlu mengatakannya. Karena memang, tidak ada laki laki yang kusukai saat ini.
 "Nggak bisa, besok ada adik adik kelas. Mana mungkin, kita tidak heboh nanti malam, nggak enak kalo adik adik kelas denger." Yah, sebenarnya aku tidak masalah dengan itu. Aku hanya akan bilang, 'Aku tidak menyukai siapapun.' Hanya itu.
 "Yaudah, sekarang aja." Aku sedikit terkejut. Sekarang? Apa yang akan mereka pikirkan tentangku nanti? Baik, mereka pasti akan menganggapku bohong. Tapi tak apa, selama aku benar benar tidak menyukai siapapun, mengapa aku takut itu sebuah kebohongan?
 Semua berkumpul dan duduk melingkar dilantai. Jantungku mulai berdebar saat alat itu memutar. Mulai dari Ica, Rahma, lalu... Aku? Tak kusangka alat itu berhenti di depanku.
 "Aku tidak menyukai siapapun." Benar apa yang kupikirkan soal reaksi mereka tadi. Wajah yang menampakkan raut jengkel mengira aku telah berbohong.
 " Tidak mungkin kau tidak menyukai siapapun." Kata Ica
 "Ada beberapa orang dipikiranku, yang mungkin kau sukai." Fiyah mengarahkan matanya padaku.
 "Pertama, Dimas." Aku muak mendengar nama itu
 "Kedua, Fillah." Aku melirik Rahma. Setahuku ia termasuk korban Fillah dan kurasa Rahma masih menyimpan rasa pada Fillah.
 "Ketiga, Nathan kelas delapan." Mataku membelo saat nama itu meluncur dari mulut Fiyah. Nathan?
 "Apa yang membuat mu berfikir bahwa aku menyukai Nathan." Dengan nada sesantai mungkin. Aku tak mau terlihat gugup.
 "Gerak gerikmu." Shoot! Seperti mendapat tembakan, aku membeku. Apa benar gerak gerikku menunjukkan bahwa aku menyukai Nathan?
 "Tidak mungkin. Aku memperlakukannya sama seperti yang lain. Masa iya, seorang Sarah menyukai adik kelasnya sendiri. Ha-ha." Aku tertawa renyah.
 Mungkin teman temanku sudah muak dengan semua alasanku. Setidaknya aku tidak berbohong. Aku tidak menyukai siapapun.
 Alat itu berputar lagi dan berhenti di depan Andin. Ia seperti mati kutu. Ia menunduk, mengisyaratkan kalau dia sangat malu.
 "Ada dua orang. Pertama Hakim, kedua Nathan." Seperti ditembak dua kali. Nathan? Perasaan apa ini? Darahku seperti berhenti sejenak hingga beberapa detik oksigen tidak mengalir menuju otakku. Kusembunyikan perasaanku dengan senyum lebar seperti yang lainnya. Apa aku mulai cemburu?
.
 Ukh, aku benar benar tidak mengharapkan jujur jujuran itu. Perasaanku campur aduk mengetahui ada dua orang dikelasku yang menyukai Nathan. Fika, dan Andin. Sayangnya, mereka masih labil. Masa iya mereka menyukai laki laki lebih dari satu sekaligus. Oke, aku pernah membaca sebuah cerita. Aku mengutip kata kata dari cerita itu, "Tidak ada yang salah dari orang yang jatuh cinta."
 Tapi, jika menginginkan dua orang sekaligus? Bukankah itu egois? Apakah mereka tidak berfikir, apa yang mereka lakukan itu buruk? Oh tidak, itu hanya pemikiranku. Hanya pemikiranku saja. Selama mereka masih tahap menyukai, itu tidak terlalu buruk. Tapi akan menjadi buruk jika rasa suka itu berubah menjadi cinta.
 Aku bisa melihat Nathan disana. Sekarang tidak semenyenangkan dulu. Dulu, aku hanya senang melihat tingkahnya yang polos, sekarang tidak. Aku harus menghindarinya. Aku tidak boleh sampai suka, bahkan jatuh cinta padanya.
 Langkahku yang biasanya kuperlambat, kini tak lagi. Selalu kupercepat langkahku agar bisa menghindar dari Nathan. Beruntung, Nathan selalu dapat kuhindari.

 Mobil ini berjalan mengantarku pulang. Lesu, aku tidak ingin les hari ini. Aku tidak ingin bertemu Dimas, Kak Dio, ataupun Fillah. Ukh, aku hidup dengan segala kebosanan ini lagi, memuakkan.
 Tidak ada lagi seseorang yang bisa membuatku tersenyum malu. Tidak ada lagi seseorang yang bisa membuat saraf saraf ditubuhku kaku. Tidak ada lagi orang yang bisa membuat jiwa Fangirlku sedikit berkurang.
 Yah, semejak Move On dari Kak Ryan, aku seperti ditarik menjadi Fangirl dan aku lupa padanya. Tapi, lambat laun aku semakin tak terkendali, aku tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat Sehun melakukan sesuatu yang romantis. Atau menangis saat Chanyeol bedscane.
 Lupakan, aku harus les. Ibu dan ayahku sudah membayar mahal untuk les sialan itu. Walau aku benci, aku harus melakukannya. Aku tidak akan menyia nyiakan keringat ayah dan ibuku.
 Sekitar dua puluh menit lagi aku pergi. Aku mulai bersiap lalu berlari kecil menuju angkot.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar