Beberapa hari setelah ujian dimulai
Pagi yang benar benar menakjubkan. Aku bangun
lebih awal dari pagi kemarin. Pukul lima pagi. Ralat, aku bukan bangun karena
rajin. Hanya saja perutku bergejolak dan siap mengeluarkan sesuatu. Aku bangkit
dan menuju kamar kecil.
Maaf maaf saja, aku bangun pagi tidak akan
membuatku langsung mandi seperti biasa. Aku akan menonton tv atau tidur lagi.
Rutinitas yang menyenangkan.
Pukul enam pagi aku baru bersiap. Layaknya
anak anak sekolah lainnya, aku mandi dan menyiapkan segalanya. Sial, mobil
jemputan sudah menunggu. Tanpa ragu, ku rampas tasku menggenggam dasi, pena dan
kaus kaki, memakai sepatu lalu berlari kearah mobil. Si supir hanya geleng
geleng dengan kelakuanku. Aku brutal, oke. Kuakui itu. Aku tak pernah sebrutal
ini saat SMP hanya saat naik kelas tiga, kurasa aku stres memikirkan Ujian
Nasional yang dimajukan lebih awal.
Setelah semuanya sudah naik, mobil kembali
melaju ke sekolah. Aku benar benar mengantuk, gara gara panggilan alam sial
yang membangunkanku pukul lima pagi. Kupejamkan mataku hanya untuk mengistirahatkannya
saja.
"Kak Sarah." Itu suara adik kelasku,
Ibra. Ya, aku hafal betul suaranya. Mungkin aku adalah kakak kelas yang baik.
Hanya mungkin. Aku agak dekat dengan adik kelasku satu ini. Mungkin dari sekian
banyak adik kelas laki laki, hanya dia yang sedikit dekat denganku. Ibra, bukan
Nathan.
"Kak, kak, bangun jam berapa sih. Pasti
begadang nonton hentai." Ingin sekali kali ku tenggelamkan dia di sebuah
sungai yang dalam, tubuhnya sedikit gempal. Kurasa ikan ikan di dasar sungai
akan suka padanya.
"Hooh, boku no pico eps 5." Jawabku
asal. Ku naiki tangga menuju kelasku dan sedikit mengintip ke kelas Nathan.
Ups, itu dia. Ku alihkan tatapan dan langkahku menuju kelas.
Sepi, namun bisa kulihat si gempal itu
disamping bangku ku. Ya tuhan, lihat cara dia menatapku. Seolah aku makhluk
yang menjijikkan baginya. Ingin aku melayangkan telapak tanganku padanya. Namun
aku masih sayang nyawa. Dari pada aku masuk kantor dan tidak ikut ulangan?
Lebih baik kutampar dia di khayalanku.
Dia lagi, guru olahraga yang benar benar
menyebalkan. Ia berada di dalam kelas selama guru pengawas belum masuk.
Memangnya dia siapa? Kepala sekolah? Dasar guru menyebalkan.
Pengawas IPS telah memasuki ruang kelas ku.
Membuka amplop yang tak salah lagi berisi kumpulan soal laknat yang akan
membuatku mual sampai besok. Iya saja, soal mulai dibagikan.
Ulangan IPS sudah selesai. Baik, aku bisa
bernafas lega. Setidaknya dua hari setelah hari ini aku akan liburan keluar
kota bersama Fiyah.
Jujur, beberapa hari terakhir Jonathan sedikit
aneh. Keanehan yang membuatku sakit. Ia seperti berbicara tanpa memikirkan
perasaanku. Dia ketus seperti biasanya, namun kali ini benar benar membuatku
ingin menangis. Dia tidak menyapaku lagi. Membalas pesanku dengan singkat. Apa
yang telah kulakukan? Apa aku telah membuat kesalahan?
Baik, aku harus fokus pada ujian tengah
semester dulu baru aku akan memikirkan Jonathan.
Besok adalah hari terakhir ujian. Lusa libur,
aku juga akan pergi ke luar kota kurang lebih lima atau enam hari. Aku bebas!
Huft, sudah lama aku tidak melihat Nathan. Tapi tak apa, ada Jonathan.
Aku melihat kalender di kelasku. Sekarang
tanggal dua belas Oktober. Artinya? Tiga hari lagi Jonathan ulang tahun. Ughh,
aku tidak sabar lagi. Jonathan, tunggu kejutan dari ku.
Bel berbunyi lagi dan ujian selanjutnya
dimulai. Semua soal tidak terlalu sulit untukku. Yah, aku harusnya bersyukur.
Ini benar benar menyenangkan. Besok ujian terakhir dan pengumuman remedial,
kuharap semua nilaiku tuntas.
Keesokan harinya.
Ujian terakhir, akhirnyaaaa. Langsung saja,
seperti biasa, guru menyebalkan itu berada di kelasku sebelum pengawas yang
sebenarnya memasuki kelas. Wajahnya yang suram itu menampakkan senyum yang ugh,
membuatku mual setengah mati. Ingin aku keluar dari kelas ini sekarang juga. Lagi,
daripada aku buang buang waktu, lebih baik kubuka buku dan membaca apapun yang
bisa kubaca. Lagi pula yang harusnya pergi itu kan dia, bukan aku.
Malaikat sudah datang, pengawas sudah memasuki
ruangan. Ahh, aku cinta pengawas itu. Lembar demi lembar dibagikan. Karena ini
ujian terakhir, aku akan melakukan yang terbaik.
Sungguh, ini benar benar jackpot. Semua yang
kubaca asal masuk ke otak dan ada di dalam soal. Baik, aku optimis dengan nilai
ku.
Dua jam berlalu dan akhirnya ujian benar benar
selesai. Besok aku akan berliburr. Ahh, hidupku yang menyenangkan, aku datangg.
Wali
kelas ku masuk dan membawa beberapa lembar kertas. Tak salah lagi itu adalah hasil
beberapa ujian. Saat hasil dibagikan, senangnya aku. Untuk tahap ini, semua
nilaiku tuntas. Baik, tinggal menunggu hasil ujian selanjutnya.
"Baik, hari Kamis lusa, kalian akan melakukan
pas foto untuk data UN kalian, untuk Sarah dan Fiyah, silahkan foto sendiri di
studio. Kalian pergi besok kan? Saya rasa pulang sekolah kalian bisa langsung foto
dan menyerahkannya pada Kepala Sekolah. Saya rasa sudah jelas. Terima kasih perhatiannya."
Holly crap, benar benar menyebalkan. Foto? Aku punya banyak pas foto yang
cukup keren. Tapi? Aku harus berfoto lagi?
"Fiyah, jam tiga, di studio biasa."
Singkat padat dan jelas. Fiyah mengangguk., bel telah berbunyi tiga kali. Tanda
kami harus segera meninggalkan tempat menyebalkan ini.
Aku pulang, bisa kulihat Nathan dari sini. Tengah
bermain dengan teman nya. Begitu ceria senyum diwajahnya. Dia tidak akan pernah
tau kalau aku pun tersenyum dan menyukainya diam diam.
Aku sudah membuat jadwal di otakku. Sepulang
sekolah aku langsung prepare dan, oh! Aku harus menghubungi Jonathan dulu.
Mobil jemputan sudah berhenti didepan rumahku.
Setelah berpesan bahwa aku akan liburan beberapa hari kedepan, aku langsung
membuka pagar dan melepas sepatu.
Ponsel, satu hal yang pertama kali kucari
sepulang sekolah. Bukan hanya aku, remaja atau orang lain juga melakukan hal
yang sama.
"Siang Nath, jgn lpa mkan siang ye."
"Kau juga."
Aku
lelah, nanti saja preparenya.
.
Pukul setengah tiga siang, aku tidur cukup
lama. Eh? Bukan cukup lama, tapi aku tidur benar benar lama. Ya tuhaann. Aku
lupa ada janji dengan Fiyah. Segera ku cuci muka dengan air hangat dan mengganti
pakaianku.
Aku merampas tas yang bahkan aku tak tau apa
isinya. Kurasa aku suka sekali merampas benda benda di depanku. Masa bodo denga
semua itu, aku memakai sepatu asal, dan berlari kecil menuju jalan raya.
Mobil kuning (re:angkot) menghampiriku. Berkali
kali aku men-dial nomer Fiyah. Sialan, anak itu tidak menjawab telfonku.
Mungkin aku benar-benar-sudah-sangat-gila. Berkali
kali aku mengatakan kalau aku merindukan Jonathan. Ya tuhan, apa yang harus
kulakukan? Terus ku pandangi jendela sampai mobil kuning ini berhenti di studio
foto yang kutuju.
Bisa kulihat Fiyah dari sini. Anak itu, dengan
motor matic dan jaket hijau tosca (katanya) yang selalu dia banggakan/? Aku
menyebrangi jalan dan tersenyum geli. Pengalaman pertamaku berfoto di studio
tanpa wali.
Ku buka pintu studio dan mendapati tante tante
tengah mengutak atik komputer. Tante itu langsung menunjuk tangga menuju lantai
atas mengetahui aku akan berfoto.
Aku segera memasang semua atribut lalu duduk
manis. Yatuhan, aku tak terbiasa dengan ini. Aku yang biasanya duduk seenak udelku,
tertawa sampai semua gigiku terlihat. Dan sekarang? Aku harus duduk di kursi
yang tak nyaman ini, dengan kaki rapat dan senyum yang ugh, menjijikkan.
Kegiatan berfoto yang benar benar menyebalkan
itu membuatku sedikit frustasi. Aku keluar bersama Fiyah, juga kalimat kalimat
seperti, "Aku-tidak-akan-pergi-ketempat-ini-lagi."
Untung aku melihat sebuah toko? Kedai? Kafe?
Atau apalah orang menyebutnya. Aku membeli minuman aneh itu. Walau aku tau
minuman itu aneh dan rasanya jauh dari enak kalau dibanding bubble tea favoritku.
Aku mampir ke sebuah mall hanya untuk menunggu
pas foto sialan itu. Sambil menyedot minumanku dengan rakus, aku melihat lihat.
Hah, benar benar! Lihat itu, itu, juga disana. Ya ampuunn, aku sudah gilaaa.
Satu jam telah berlalu, aku bersama Fiyah
kembali ke studio foto sialan itu. Melihat hasil senyum menjijikkan ku, yah tak
terlalu buruk. Seridaknya wajahku dibuat lebih 'bersinar'.
Aku dan Fiyah segera pergi ke rumah Kepala
Sekolahku. Yah, tidak buruk, Kepala sekolahku tidak cerewet karena aku tidak
memakai helm, atau karena aku akan liburan sementara yang lain ikut remedial.
Whatever, aku benar benar lelah dengan sikapku sendiri. Aku perlu liburan dan
me-Refresh otak dan tubuhku.
Aku pulang dan merebahkan tubuhku di ranjang.
Aku mengirim pesan pada Jonathan.
"Jgn
lpa mndi."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar